|
A A

GAMA Leading Economic Indicator dan Economic Outlook 2014:II

GAMA Leading Economic Indicator (GAMA LEI)
Leading Economic Indicator merupakan salah satu model early warning system untuk memprediksi arah pergerakan ekonomi di masa depan. GAMA Leading Economic Indicator (GAMA LEI) merupakan model yang dikembangkan oleh tim Macroeconomic Dashboard FEB UGM. Titik balik serta kenaikan/penurunan garis pada model GAMA LEI digunakan untuk memprediksi arah pergerakan perekonomian Indonesia dalam beberapa waktu kedepan. Analisis GAMA LEI berdasarkan uji kuantitatif dan kualitatif untuk menghasilkan prediksi terbaik.
GAMA LEI disusun dari berbagai macam indikator yang telah melewati uji statistik yang ketat. Kinerja pada variabel seperti investasi, total nilai penjualan mobil, ekspor dan cadangan devisa dari sisi ekonomi makro serta market capitalization dan IHSG dari pasar modal cukup berpengaruh pada kondisi perekonomian. Meskipun demikian, patut dicatat bahwa beberapa indikator ekonomi makro lainnya dapat berubah dengan cepat dalam beberapa waktu kedepan.  
GAMA LEI mampu memprediksi siklus perekonomian (PDB) Indonesia dengan cukup akurat pada beberapa waktu sebelumnya. Peramalan model GAMA LEI mampu memprediksi arah siklus perekonomian Indonesia selama ini dengan baik. Adanya penurunan kinerja pada beberapa indikator kunci perekonomian Indonesia menyebabkan pertumbuhan ekonomi di 2014:Q1  menurun dibandingkan dengan 2013:Q4. Dalam edisi ini, GAMA LEI akan memprediksi bagaimana perekonomian Indonesia berfluktuasi dalam tahun politik 2014, terutama menjelang pemilihan presiden bulan Juli mendatang.
Keberagaman pola pada pertumbuhan ekonomi Indonesia serta proyeksi siklus perekonomian dalam model GAMA LEI menghasilkan peramalan yang komprehensif. Peramalan siklus bisnis menekankan pada pergerakan siklus perekonomian apakah berada pada fase ekspansi atau kontraksi dalam beberapa waktu ke depan. Siklus GAMA LEI 2014:Q1 berada pada fase ekspansi (berada di atas nilai 100) meskipun mempunyai arah menurun. Sebagai contoh: pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2014:Q1 secara year-on-year tercatat meningkat, namun siklus PDB yang dihasilkan dalam model tersebut mengalami pergerakan menurun walaupun dalam fase ekspansi.

Gambar 18: GAMA Leading Economic Indicator
GAMA LEI memprediksikan kecenderungan penurunan siklus perekonomian Indonesia
 

 

Hasil prediksi GAMA LEI pada edisi ini menghasilkan adanya kecenderungan penurunan siklus perekonomian (PDB) Indonesia. Model GAMA LEI pada 2014:Q1 menunjukan perubahan arah pergerakan perekonomian yang menurun. Pergerakan GAMA LEI yang menurun menghasilkan prediksi penurunan siklus perekonomian (PDB) Indonesia pada 2014:Q2. Perhelatan politik 2014, terutama menjelang pemilihan presiden bulan Juli mendatang, seharusnya mampu memberikan harapan dan optimisme bagi perekonomian Indonesia. Pemerintahan periode berikutnya diharapkan mampu memanfaatkan momentum dengan menjaga atau bahkan meningkatkan kinerja perekonomian yang telah tercatat meningkat secara year-on-year di 2014:Q1.

Konsensus Proyeksi Indikator Makroekonomi
Hasil konsensus menunjukkan nilai tiga indikator makro utama Indonesia yaitu pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan nilai tukar bergerak membaik dari tahun 2014 ke 2015. Konsensus diperoleh berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim Macroeconomic Dashboard dengan responden dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.
Secara umum, prediksi pertumbuhan PDB riil (y-o-y) kuartal II-2014 bergerak membaik dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan PDB riil kuartal I-2014. PDB riil (y-o-y) diprediksi tumbuh sebesar 5,46% ± 0,37%  pada kuartal II-2014 dan 5,47% ± 0,42% pada kuartal III-2014. Adapun secara tahunan, prediksi pertumbuhan PDB riil 2014 dan 2015 masing-masing sebesar 5,63% ± 0,48% dan 6,0% ± 0,6% .
Inflasi Indonesia tahun 2014-2015 diprediksi berada di atas tujuh persen. Tahun 2014, hasil prediksi inflasi Indonesia adalah sebesar 7,88% ± 1,38%. Tahun 2015 nilainya bergerak menurun menjadi 7,36% ± 1,82%. Sementara itu secara kuartalan, inflasi di Indonesia pada kuartal II-2014 dan III-2014 masing-masing sebesar 7,42% ± 1,56% dan 7,90% ± 1,59%.
Nilai tukar rupiah diprediksi mulai membaik dan stabil pada tahun 2014, walaupun masih di sekitar nilai Rp/USD 11.000. Pada kuartal II-2014 nilai tukar rupiah diperkirakan sebesar IDR/USD 11.563 ± IDR/USD 349. Di kuartal berikutnya, nilai tukar rupiah sedikit menguat menjadi IDR/USD 11.553 ± IDR/USD 390. Sementara itu secara tahunan, nilai tukar rupiah tahun 2014 adalah IDR/USD 11.366 ± IDR/USD 479 dan tahun 2015 menguat menjadi IDR/USD 11.072 ± IDR/USD 316.

Tabel 9: Estimasi Pertumbuhan PDB Riil (y-o-y, dalam %)

Sumber: Data Primer; diolah (2014)

Tabel 10: Estimasi Inflasi (y-o-y, dalam %)
 

Sumber: Data Primer; diolah (2014)

Tabel 11: Estimasi Nilai Tukar Rupiah (IDR/USD)
 

Sumber: Data Primer; diolah (2014)

ECONOMIC OUTLOOK
Hingga tulisan ini dimuat, perekonomian Indonesia masih tetap bergerak dalam tren yang positif, namun sejumlah indikator memberi sinyal yang mengkhawatirkan. Indikator daya saing Indonesia masih tetap lemah yang terefleksikan pada pelemahan kurs rupiah yang tidak diikuti oleh kenaikan nilai ekspor secara signifikan. Akibatnya, nilai impor yang melonjak tidak bisa diimbangi oleh kenaikan ekspor yang cukup, sehingga ekspor neto menjadi turun. Selain itu, Bank Indonesia tidak melakukan kebijakan moneter yang drastis karena upaya perbaikan pada neraca perdagangan dan neraca pembayaran juga harus diikuti dengan kebijakan pemerintah.

Sementara itu, indikator lain menunjukkan beban keuangan negara yang meningkat akibat proyeksi penurunan target penerimaan negara dan subsidi BBM yang sangat tinggi. Pembahasan terakhir pada 13 Juni 2014 di Badan Anggaran DPR dan pemerintah memutuskan defisit 2,4% dari PDB ditutup dengan penerbitan SBN sebesar IDR 72 triliun. Menariknya, meskipun terdapat beban subsidi yang besar akibat impor BBM, namun subsidi dalam RAPBNP justru turun dari pagu awal dalam RAPBNP IDR 285 triliun menjadi IDR 246,49 triliun. Konsekuensinya, pemerintah baru nanti akan mendapat carry over beban subsidi ini sebesar IDR 46,26 triliun.

Berbagai perkembangan ekonomi nasional ini kemudian ditangkap dalam GAMA LEI yang memprediksikan penurunan siklus perekonomian Indonesia. Perlu dicatat bahwa penurunan siklus perekonomian tidak serta merta berakibat pada penurunan pertumbuhan ekonomi karena siklus ekonomi sudah mengeluarkan faktor-faktor yang sifatnya volatile. Seiring dengan hal tersebut, konsensus ekonomi memperkirakan pertumbuhan ekonomi (y-o-y) pada kuartal II-2014 masih akan meningkat meskipun tinggi.

Meskipun pertumbuhan ekonomi diproyeksikan naik, namun siklus PDB yang diperkirakan turun harus menjadi perhatian bagi pemangku kebijakan. Pembuat kebijakan tidak boleh hanya memperhatikan aspek teknis dari kebijakan, mereka juga harus terbuka dan tegas agar mendapat trust dari masyarakat. Terakhir, relatif suksesnya Pemilu Legislatif berhasil menghindarkan perekonomian Indonesia dari instabilitas, sehingga hal ini harus dipertahankan menjelang Pemilu Presiden pada 9 Juli nanti. Hal ini penting karena perekonomian yang tumbuh merupakan prasyarat bagi kesejahteraan sosial dan masyarakat yang berkeadilan.

Defisit Neraca Perdagangan Januari – Desember 2018 (ytd) mencapai US$8,57 billion (BPS)  *  Inflasi Desember 2018 tercatat sebesar 3,13% y-o-y (BPS).  *  Neraca Pembayaran Indonesia pada September 2018 (Q3) mengalami defisit hingga US$4,39 Billion (BPS)  *  Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal 3 2018 mengalami defisit terdalam selama 5 tahun terakhir mencapai US$8,85 billion (BPS)  *  Info terbaru