|
A A

GAMA Leading Economic Indicator dan Economic Outlook 2014:III

1. GAMA Leading Economic Indicator (GAMA LEI)
Gambar 15: GAMA Leading Economic Indicator
GAMA LEI memprediksikan kecenderungan penurunan siklus perekonomian Indonesia

Sumber: Estimasi Tim Macdash (2015)

Leading Economic Indicator merupakan salah satu model early warning system untuk memprediksi arah pergerakan ekonomi di masa depan. GAMA Leading Economic Indicator (GAMA LEI) merupakan model yang dikembangkan oleh Tim Macroeconomic Dashboard FEB UGM. Titik balik serta kenaikan/penurunan garis pada model GAMA LEI digunakan untuk memprediksi arah pergerakan perekonomian Indonesia dalam beberapa waktu kedepan. Analisis GAMA LEI berdasarkan uji kuantitatif dan kualitatif untuk menghasilkan prediksi terbaik.
GAMA LEI disusun dari berbagai macam indikator yang telah melewati uji statistik yang ketat. Kinerja pada variabel seperti investasi, total nilai penjualan mobil, dan konsumsi semen dari sisi ekonomi makro serta market capitalization dan IHSG dari pasar modal cukup berpengaruh pada kondisi perekonomian. Meskipun demikian, patut dicatat bahwa beberapa indikator ekonomi makro lainnya dapat berubah dengan cepat dalam beberapa waktu kedepan.  
GAMA LEI mampu memprediksi siklus perekonomian (PDB) Indonesia dengan cukup akurat pada beberapa waktu sebelumnya. Peramalan model GAMA LEI mampu memprediksi arah siklus perekonomian Indonesia selama ini dengan baik. Adanya penurunan kinerja pada beberapa indikator kunci perekonomian Indonesia menyebabkan pertumbuhan ekonomi di 2014:Q2  menurun dibandingkan dengan 2014:Q1. Dalam edisi ini, GAMA LEI akan memprediksi bagaimana perekonomian Indonesia berfluktuasi dalam tahun politik 2014, terutama setelah terpilihnya pemimpin baru nasional.
Keberagaman pola pada pertumbuhan ekonomi Indonesia serta proyeksi siklus perekonomian dalam model GAMA LEI menghasilkan peramalan yang komprehensif. Peramalan siklus bisnis menekankan pada pergerakan siklus perekonomian apakah berada pada fase ekspansi atau kontraksi dalam beberapa waktu ke depan. Siklus GAMA LEI 2014:Q2 berada pada fase ekspansi (berada di atas nilai 100) meskipun mempunyai arah menurun. Dalam hal ini pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2014:Q2 secara year-on-year tercatat meningkat, namun siklus PDB yang dihasilkan dalam model tersebut mengalami pergerakan menurun walaupun dalam fase ekspansi.
Hasil prediksi GAMA LEI pada edisi ini menghasilkan adanya kecenderungan penurunan siklus perekonomian (PDB) Indonesia. Model GAMA LEI pada 2014:Q2 menunjukan perubahan arah pergerakan perekonomian yang menurun. Pergerakan GAMA LEI yang menurun menghasilkan prediksi penurunan siklus perekonomian (PDB) Indonesia pada 2014:Q3. Namun demikian, perhelatan politik 2014, terutama setelah terpilihnya presiden dan wakil presiden hasil pemilu bulan Juli yang lalu, seharusnya mampu memberikan harapan dan optimisme bagi perekonomian Indonesia. Sehingga pemerintah baru nantinya diharapkan mampu memanfaatkan momentum dengan menjaga atau bahkan meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia.

2. Konsensus Proyeksi Indikator Makroekonomi
Selain memprediksi pergerakan siklus PDB melalui GAMA LEI, tiga indikator makro utama Indonesia (pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan nilai tukar) juga diprediksi melalui survei di internal FEB UGM. Indikator pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar bergerak membaik, sedangkan indikator inflasi bergerak memburuk dari tahun 2014 ke 2015. Konsensus diperoleh berdasarkan expert judgment dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.
Secara umum, prediksi pertumbuhan PDB riil (y-o-y) kuartal III-2014 bergerak membaik dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan PDB riil kuartal II-2014. PDB riil (y-o-y) diprediksi tumbuh sebesar 5,22% ± 0,24% pada kuartal III-2014 dan 5,44% ± 0,51% pada kuartal III-2014. Adapun secara tahunan, prediksi pertumbuhan PDB riil 2014 dan 2015 masing-masing sebesar 5,68 % ± 0,43% dan 5,9% ± 0.6% . Menurut survei yang dilakukan, tiga faktor utama penentu terjadinya kenaikan pertumbuhan PDB riil di tahun 2014 adalah kondisi perekonomian dunia, tingkat investasi domestik dan asing, serta kebijakan pemerintah.
Inflasi Indonesia tahun 2014-2015 diprediksi berada pada kisaran 5 hingga 7 persen. Tahun 2014, hasil prediksi inflasi Indonesia adalah sebesar 6,54% ± 1,89%. Tahun 2015 nilainya bergerak meningkat menjadi 7,09% ± 1,96%. Sementara itu secara kuartalan, inflasi di Indonesia pada kuartal III-2014 dan IV-2014 masing-masing sebesar 5,36% ± 1,67% dan 5,81% ± 1,88%. Menurut survei yang dilakukan, tiga faktor utama penentu terjadinya kenaikan inflasi di tahun 2014 adalah kondisi nilai kurs rupiah, faktor musiman, dan harga barang yang diatur pemerintah.
Nilai tukar rupiah diprediksi mulai membaik dan stabil pada tahun 2014, walaupun masih di sekitar nilai Rp/USD 11.000. Pada kuartal III-2014 nilai tukar rupiah diperkirakan sebesar IDR/USD 11.545 ± IDR/USD 271. Di kuartal berikutnya, nilai tukar rupiah sedikit menguat menjadi IDR/USD 11.514 ± IDR/USD 365. Sementara itu secara tahunan, nilai tukar rupiah tahun 2014 adalah IDR/USD 11.513 ± IDR/USD 368 dan tahun 2015 menguat menjadi IDR/USD 11.275 ± IDR/USD 453. Menurut survei yang dilakukan, tiga faktor utama penentu terjadinya kenaikan pertumbuhan apresiasi nilai tukar rupiah di tahun 2014 adalah kondisi ekonomi Indonesia, ekspektasi pasar, dan kebijakan makroekonomi.

Tabel 8: Estimasi Pertumbuhan PDB Riil (y-o-y, dalam %)

 Sumber: Data Primer; diolah (2014)

Tabel 9: Estimasi Inflasi (y-o-y, dalam %)

Sumber: Data Primer; diolah (2014)

Tabel 10: Estimasi Nilai Tukar Rupiah (IDR/USD)

Sumber: Data Primer; diolah (2014)

 

3. Economic Outlook

Stabilitas sosial, politik dan ekonomi Indonesia pasca pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara umum terjaga dengan baik. Nilai rupiah, inflasi dan indeks harga saham gabungan menyambut positif Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Diharapkan pemerintah baru akan membawa perbaikkan dalam pengelolaan ekonomi sehingga Indonesia bisa semakin maju, sejahtera dan adil. Namun demikian masalah, tantangan dan ancaman menghantui pemerintah baru nanti. Indonesia berada pada tren pertumbuhan ekonomi yang menurun sejak 2012 dan neraca perdagangan barang defisit, demikian juga defisit transaksi berjalan yang meningkat. Apalagi debt service ratio terus naik sehingga berada pada posisi 48% yang sudah merupakan lampu merah bagi perekonomian suatu negara. Padahal utang luar negeri swasta juga terus meningkat dengan utang jangka pendek yang cukup signifikan jumlahnya. Padahal investasi portfolio asing masuk ke pasar saham ataupun surat berharga negara juga semakin besar, yang bisa keluar setiap saat. Apalagi Amerika Serikat yang ekonominya membaik diperkirakan akan melakukan kebijakan tapering off pada tahun 2015. Dengan demikian meskipun pertumbuhan negara-negara ASEAN mulai menggeliat lagi, demikian juga India mulai meningkat pertumbuhan ekonominya, namun ancaman masih menghantui. Sehingga jika tidak ada perubahan dalam pengelolaan ekonomi Indonesia, tren pertumbuhan ekonomi yang menurun akan berlanjut karena kualitas pembangunan ekonomi Indonesia yang rendah seperti yang diramalkan oleh GAMA LEI. Apalagi kebijakan fiskal yang diharapkan dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi sudah berat oleh anggaran subsidi energi.


Pemerintah baru yang dinahkodai oleh Jokowi dan JK diharapkan akan dapat memperbaiki kualitas pertumbuhan ataupun pembangunan ekonomi. Pemerintah diharapkan mampu meletakkan dasar-dasar perekonomian yang sehat, kuat, dan berdaya saing tinggi. Untuk itu kebijakan fiskal diharapkan bisa dijadikan sebagai isntrumen selain untuk menjalankan fungsi alokasi, menjaga stabilitas ekonomi dan redistribusi juga dapat berfungsi dalam menstimulus pembangunan ekonomi. Pemerintah baru diharapkan punya keberanian untuk mengalihkan subsidi energi yang salah sasaran kepada pembangunan manusia seperti pendidikan, kesehatan, dan jaminan sosial lainnya, serta pembangunan infrastruktur seperti irigasi, jalan, jalur kereta api, dan waduk yang dapat meningkatkan daya saing Indonesia. Selain itu berbagai kebijakan yang dapat menggerakkan ekonomi domestik serta mengurangi ketergantungan pada komoditas luar negeri diperlukan agar Indonesia siap memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Sehingga meskipun tren penurunan ekonomi masih berlangsung namun  jika pengelolaan ekonomi berubah pro manusia, pro daya saing dan pro ekonomi domestik, serta pemerintah berani mengambil tindakan yang diperlukan meskipun tidak populer untuk itu, diharapkan ada perbaikkan pada perekonomian Indonesia. Sehingga tren penurunan pertumbuhan ekonomi dapat dibalik menjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Semoga.

Defisit Neraca Perdagangan Januari – Desember 2018 (ytd) mencapai US$8,57 billion (BPS)  *  Inflasi Desember 2018 tercatat sebesar 3,13% y-o-y (BPS).  *  Neraca Pembayaran Indonesia pada September 2018 (Q3) mengalami defisit hingga US$4,39 Billion (BPS)  *  Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal 3 2018 mengalami defisit terdalam selama 5 tahun terakhir mencapai US$8,85 billion (BPS)  *  Info terbaru