|
A A

GAMA Leading Economic Indicator dan Economic Outlook 2016:I

Gambar 1 GAMA Leading Economic Indicator
GAMA LEI memprediksikan kecenderungan peningkatan siklus perekonomian Indonesia
GAMA LEI
Sumber: Estimasi Tim Macroeconomic Dashboard (2016)

 

Leading Economic Indicator merupakan salah satu model early warning system untuk memprediksi arah pergerakan ekonomi satu kuartal ke depan. GAMA LEI mampu menghasilkan perkiraan siklus perekonomian (PDB) Indonesia dengan akurat. Sejak kuartal IV-2012 sampai kuartal IV-2015 GAMA LEI berhasil memprediksi arah pergerakan ekonomi dengan persentase keberhasilan sebesar 84,61 persen. GAMA LEI memprediksikan kinerja perekonomian Indonesia yang menunjukkan peningkatan laju pertumbuhan pada kuartal I tahun 2016. Hal tersebut disebabkan adanya peningkatan kinerja pada beberapa indikator kunci perekonomian Indonesia yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.

GAMA LEI dihasilkan dengan mengurai komponen penyusun data runtun waktu variabel makro sehingga dihasilkan komponen siklus yang dapat digunakan untuk memprediksikan arah pergerakan ekonomi satu kuartal ke depan. Kinerja pada variabel makro seperti tingkat ekspor, investasi, penjualan semen, cadangan devisa, indeks harga saham gabungan, dan lain sebagainya menjadi beberapa variabel kandidat yang diuji karena memiliki pengaruh cukup signifikan pada kondisi perekonomian Indonesia. Pada akhirnya, GAMA LEI merupakan variabel komposit yang disusun oleh beberapa indikator yang telah melewati uji statistik yang ketat. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa beberapa indikator ekonomi makro lainnya dapat berubah dengan cepat dalam beberapa waktu ke depan.

Hasil prediksi GAMA LEI pada edisi ini menghasilkan adanya kecenderungan peningkatan siklus perekonomian (PDB) Indonesia. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1, GAMA LEI pada kuartal I-2016 menunjukan arah pergerakan yang meningkat. Pergerakan GAMA LEI yang meningkat tersebut menjelaskan prediksi peningkatan siklus perekonomian (PDB) Indonesia pada kuartal I-2016. Kondisi tersebut dapat dianalisis lebih lanjut menggunakan siklus dari indikator yang menyusunnya yaitu (1) cadangan devisa, (2) capital adequacy ratio (CAR), (3) harga batu bara, (4) realisasi investasi luar negeri, (5) business tendency ratio, (6) kapitalisasi pasar saham BEI, (7) penjualan semen, (8) consumer tendency ratio, (9) indeks harga saham gabungan, (10) indeks harga saham Singapura, (11) harga minyak mentah dunia (WTI), (12) harga minyak mentah Indonesia (ICP), (13) exchange rate pressure index (EMPI), dan (14) ekspor.

Prediksi peningkatan laju pertumbuhan ekonomi ini diperkirakan masih didorong oleh belanja pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari upaya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang sudah memulai proyeknya di awal tahun. Di sisi lain, langkah Bank Indonesia dalam melakukan pelonggaran kebijakan moneter diharapkan dapat mengekspansi perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2015 yang akhirnya menembus angka 5 persen serta kondisi pasar valas Indonesia yang semakin membaik juga dapat memberikan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Maret 2016, utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar USD315,985 juta atau meningkat 1,20% (m-t-m). (Bank Indonesia)  *  Mei 2016, cadangan devisa Indonesia sebesar USD 103,59 miliar, lebih rendah dari bulan sebelumnya. (Bank Indonesia)  *  Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,24% m-t-m atau 3,33% y-o-y pada Mei 2016. (BPS)  *  Hasil RDG BI 17 Maret 2016: BI Rate turun 25 bps ke level 6,75%. (Bank Indonesia)  *  Info terbaru