|
A A

Perkembangan Pasar Finansial dan Sektor Moneter 2015:I

Tingkat Inflasi Menurun, Sektor Moneter Masih Mixed Feeling

Pergerakan IHSG (poin) dan Indeks Imbal Hasil SUN Tenor 10 Tahun, Februari 2011 – Februari 2014 (dalam %)
Sinyal bagus di pasar obligasi dan saham masih berlanjut

Sumber: Bloomberg, BEI, dan CEIC (2015)

 

Imbal hasil (yield) obligasi IBPA menurun. Pada penutupan kuartal IV-2014, yield SBN tenor 10 tahun ada di level 7,97%, lebih rendah 47 bps dari kuartal sebelumnya. Sejalan dengan itu, indeks harga obligasi IDMA naik 3,84 bps ke level 99,7 bps dan indeks harga bersih obligasi IBPA naik 3,82 bps q-t-q ke level 114,27 bps. Hal tersebut menjadi tanda positif kinerja pasar obligasi Indonesia di kuartal terakhir 2014. Meski begitu, investor asing tercatat melakukan jual neto selama Desember 2014 sebesar IDR 19,84 triliun. Ini mengindikasikan bahwa investor domestik dan/atau Bank Indonesia melakukan pembelian SBN. Bank Indonesia bisa saja melakukan ini untuk stabilisasi pasar obligasi. Hengkangnya investor asing dipicu juga oleh keputusan the Fed yang berencana menaikkan Fed Funds Rate pada tahun 2015. Rupiah menjadi tertekan terhadap dolar Amerika. Naiknya dolar Amerika membuat beban utang luar negeri pemerintah dalam mata uang domestik meningkat. Ditambah dengan melambatnya ekspor yang menjadi sumber devisa, ini membuat CDS surat utang pemerintah dalam USD tenor 5 tahun pada akhir Desember 2014 naik ke level 177,99 bps, lebih tinggi 11,02 bps relatif terhadap September 2014. Artinya, persepsi pasar terhadap risiko obligasi Indonesia meningkat.

Memasuki tahun 2015 sampai dengan akhir Februari 2015, yield SBN masih menunjukkan tren penurunan. Pada akhir Februari 2015, yield tercatat di level 6,96%, lebih rendah 101 bps dari Desember 2014 maupun 153 bps pada Februari 2014. Sementara itu, CDS tenor 5 tahun pada Februari 2015 berada di level 134 bps, menurun sebesar 43,99 bps relatif terhadap CDS pada akhir tahun 2014. Sedangkan bila dibandingkan dengan Februari 2014 atau setahun sebelumnya, CDS pada Februari 2015 menurun sebesar 50,89 bps. Penurunan yield dan CDS tersebut berkaitan dengan membaiknya postur APBNP 2015 karena penurunan subsidi BBM. Selain itu, rencana kenaikan Federal Funds Rate yang sedianya dilakukan pada awal tahun 2015 ditunda karena belum solidnya data ekonomi Amerika.

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami tekanan besar pada pertengahan Desember 2014. Tekanan tersebut muncul dikarenakan pengumuman rencana liftoff Federal Funds Rate yang membuat dolar Amerika menguat terhadap hampir semua mata uang dunia, tak terkecuali rupiah. IHSG sempat tercatat turun ke level 5.026 poin pada pertengahan Desember sebelum kembali melesat di akhir Desember 2014 pada level 5.228 poin atau naik 1,74% dibanding pada 30 September 2014 yang ada di level 5.138 poin. Selain itu, nilai kapitalisasi pasar pada akhir tahun 2014 mencapai IDR 5.228 triliun, meningkat 23,92% dibandingkan awal tahun.

Pada penutupan Februari 2015, IHSG tercatat di level 5.450,3 poin, menguat 4,27% dari akhir Desember 2014 dan kapitalisasinya meningkat 2,2%. Jika dibandingkan dengan Februari 2014, IHSG Ferbruari 2015 meningkat sebesar 17,96% dengan kapitalisasi yang meningkat sebesar 18,6%. Selama dua bulan transaksi, IHSG sempat melonjak hingga mencapai level 5.500-an, yang merupakan rekor tertinggi, meski di sesi penutupan kembali turun. Penguatan indeks pada Februari 2015 meneruskan tren pada Januari 2015 yang naik 1,20% (m-t-m). Kinerja IHSG tersebut ditopang oleh ekspektasi akan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia pasca penurunan harga minyak dunia dan harga BBM dalam negeri. Perkembangan IHSG tersebut cukup baik jika dilihat dalam empat bulan terakhir. IHSG bergerak sangat fluktuatif mengikuti dinamika ekonomi global dengan rata-rata pertumbuhan 1,73% per bulan.

 

Cadangan Devisa Indonesia (USD Miliar) dan Perkembangan Nilai Tukar (IDR/USD), Februari 2012 – Februari 2015
Rupiah mengkhawatirkan, cadangan devisa terus meningkat

Sumber: Bank Indonesia dan CEIC (2015)

 

Kuartal IV-2014 menjadi periode penuh tekanan bagi rupiah. Rupiah mengalami depresiasi 1,9% dari akhir September 2014 di level IDR 12.212 per USD ke level IDR 12.440 per USD pada akhir Desember 2014. Secara tahunan, rupiah terdepresiasi 2%. Bahkan, rupiah sempat hampir menembus level IDR 13.000 per USD. Kontrak rupiah untuk satu bulan dan tiga bulan ke depan pada pasar NDF juga memburuk. NDF rupiah jangka satu bulan pada Desember 2014 ada di level IDR 12.483 per USD, melemah 1,24% dibandingkan September 2014, begitu pula dengan NDF jangka waktu tiga bulan yang berada di level IDR 12.650 (melemah 1,14%). Tekanan yang dialami rupiah selama Desember 2014 diakibatkan sentimen global terkait perbaikan perekonomian Amerika yang mendorong the Fed akan menaikkan suku bunga acuan. Investor nampak tidak mau mengambil risiko sehingga lebih memilih memegang dolar daripada mata uang lainnya.

Rupiah kembali terdepresiasi lebih dalam pada akhir Februari 2015, terutama pasca pengumuman penurunan BI Rate pada tanggal 17 Februari 2015. Per 27 Februari 2015, rupiah tercatat melemah 3,4% ke level IDR 12.863 per USD dibandingkan penutupan Desember 2014. Tekanan terhadap rupiah sempat mereda pada medio Januari 2015, namun memburuk pasca BI Rate turun sebesar 25 bps. Penurunan BI Rate tersebut direspon sangat negatif oleh pasar karena dilakukan di tengah-tengah rencana kenaikan Federal Funds Rate. NDF rupiah jangka satu bulan diperdagangkan pada level IDR 13.130 per USD dengan spread terhadap spot rate sebesar 267 poin, melemah 5,18% dibanding penutupan Desember 2014, sedangkan jika dibandingkan Februari 2014 melemah 12,94%.

Cadangan devisa masih menunjukkan tren positif. Pada akhir Desember 2014, cadangan devisa tercatat sebesar USD 111,86 miliar, meningkat tipis USD 0,7 miliar dibanding akhir September 2014. Peningkatan cadangan devisa didukung oleh penerimaan luar negeri pemerintah dari utang. Posisi cadangan devisa tersebut dapat membiayai impor plus utang luar negeri selama 6,5 bulan. Sementara itu, pada akhir Februari 2015 cadangan devisa kembali meningkat sebesar USD 3,67 miliar dibandingkan Desember 2014. Aliran investasi asing di pasar obligasi masih menjadi faktor penambahan cadangan devisa Indonesia.

 

Perkembangan BI Rate, Februari 2012 – Februari 2015 (dalam %)
BI mantap pangkas BI Rate

Sumber: Bank Indonesia dan CEIC (2015)

 

BI Rate naik 25 bps ke level 7,75% di kuartal IV-2014. Kenaikan BI Rate pada 18 November 2014, yang dipertahankan hingga Desember 2014, dilakukan sebagai respon terhadap kenaikan harga BBM bersubsidi. Tujuannya, agar inflasi dapat terkendali dengan kenaikan suku bunga di pasar sehingga ekspektasi inflasi juga terjaga. Namun, BI Rate kembali diturunkan 25 bps pada 17 Februari 2015. Ada dua alasan Bank Indonesia terkait hal tersebut, yaitu penurunan harga BBM bersubsidi dan perbaikan kinerja transaksi berjalan. Sebelum BI Rate diturunkan, harga BBM turun sebanyak dua kali, pertengahan Januari 2015 disusul awal Februari 2015. Kemudian, pencapaian target pengurangan defisit transaksi berjalan dari defisit 6,86% pada kuartal III-2014 menjadi defisit 5,67% pada kuartal IV-2014 juga membuat BI percaya diri pada keputusan tersebut. Harapannya, persepsi pasar terhadap risiko investasi terkait inflasi tinggi kembali menurun dan outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik. Meski begitu, Indonesia masih akan menghadapi risiko ketidakpastian ekonomi global terkait pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan Jepang di kuartal IV–2014 tidak sesuai ekspektasi pasar. Sementara ekonomi Eropa diambang deflasi, dan ekonomi Amerika terus menunjukkan perbaikan dengan kenaikan Fed Funds Rate membayangi.

Sayangnya, langkah Bank Indonesia tersebut berisiko. Hal tersebut dapat menjadi sinyalemen negatif bagi pasar. Bank Indonesia tidak lagi konservatif menjaga keseimbangan eksternal, tetapi cenderung mendukung langkah pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Pasar rupiah terus mengalami depresiasi secara kontinyu. Dalam tempo dua hari pasca pengumuman BI Rate, rupiah telah terdepresiasi 0,72%. Hal tersebut tentu mengkhawartirkan. Jika berlanjut dengan rate yang konstan dalam waktu, misalnya saja 20 hari kerja, rupiah dapat terdepresiasi hingga 7%. BI melakukan dua kali intervensi pada pasar valas, namun tidak berdampak signifikan sehingga tren depresiasi rupiah masih berlangsung hingga akhir bulan Februari 2015.

 

Perkembangan Tingkat Suku Bunga Penjaminan LPS dan Deposito, 2012 – 2015* (dalam %)
Suku bunga deposito menurun, suku bunga LPS tetap

Catatan: * = Suku Bunga Deposito per Januari 2015
Sumber: Bank Indonesia, LPS, dan CEIC (2015)

 

Suku bunga deposito tertekan inflasi pada Desember 2014. Meski sempat menurun pada Oktober dan November, suku bunga deposito berjangka satu bulan ada di level 8,58% pada Desember 2014 naik 10 bps dibandingkan dengan September 2014. Kenaikan suku bunga deposito menyesuaikan kondisi likuiditas perbankan yang kembali mengetat menyusul kenaikan BI Rate untuk pengendalian inflasi. Meski begitu, suku bunga LPS tetap pada 7,75%, tidak berubah sejak Mei hingga Desember 2014.

Perkembangan terkini suku bunga deposito berjangka satu bulan kembali menurun. Pada Januari 2015, suku bunga deposito berjangka satu bulan tercatat 8,46%, lebih rendah 12 bps dibanding Desember 2014. Namun jika diperbandingkan antar tahun, angka tersebut masih lebih tinggi 57 bps dari Januari 2014. Penurunan suku bunga deposito berjangka satu bulan pada Januari 2015 disebabkan mulai stabilnya perkembangan likuiditas perbankan. Hal itu ditandai dengan pertumbuhan DPK yang lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan kredit. Tetapi, suku bunga deposito berjangka masih berada di atas suku bunga penjaminan LPS. Suku bunga penjaminan LPS tetap berada pada level 7,75% di akhir Februari 2015. LPS menilai bahwa pergerakan suku bunga di pasar bergerak menurun. Meski di akhir Desember 2014 terjadi kenaikan, hal tersebut hanya sementara mengikuti pergerakan tingkat inflasi. Pertumbuhan DPK juga relatif stabil meski masih ada kemungkinan besar untuk kembali mengetat yang memengaruhi likuiditas perbankan.

Di sisi lain, suku bunga kredit bergerak relatif stabil. Rata-rata tertimbang suku bunga kredit tercatat 12,96% pada akhir Desember 2014, naik 8 bps dibanding September. Kemudian, pertumbuhan kredit menjadi bergerak stagnan sebesar 11,4% y-o-y pada Desember 2014. Perlambatan pertumbuhan kredit terjadi karena kredit modal kerja dan kredit investasi menurun. Hal tesebut tidak lain disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang melambat seiring dengan permintaan domestik yang menurun. Kredit khusus sektor UMKM juga menurun dengan perlambatan yang signifikan, dari 11,2% y-o-y pada akhir September 2014 menjadi 10,3% pada Desember 2014. Diperkirakan, kredit UMKM melambat terkait dengan menurunnya permintaan domestik dan ekspor. Dana yang telah disalurkan per Desember 2014 sebesar IDR 3.702,2 triliun, tumbuh 11,4%, juga lebih rendah dari September 2014 yang sebesar 12,5%.

Kondisi suku bunga kredit masih serupa pada Januari 2015. Rata-rata suku bunga kredit tertimbang tercatat 12,95%, turun 1 bps dari Desember 2014. Pertumbuhan kredit pada Januari 2015 sebesar 9,8% y-o-y. Sementara itu, dana yang telah disalurkan perbankan per Januari 2015 berjumlah IDR 3.662,6 triliun, tumbuh 11,4% seperti pada Desember 2014. Kredit UMKM makin menurun, tercatat tumbuh 9.8%, sedangkan kredit investasi sedikit membaik dengan tumbuh 23,6% pada Januari 2015 dibandingkan Desember yang tercatat 22,3%.

 

Tingkat Inflasi, Februari 2012 – Februari 2015 (y-o-y, dalam %)
BBM turun, inflasi Februari ikut menurun

Sumber: BPS dan CEIC (diolah, 2015)

 

Inflasi tinggi melanda Desember 2014. Inflasi Desember 2014 mencapai 8,36% y-o-y jauh lebih tinggi dari inflasi pada September 2014 yang sebesar 4,53%. Tekanan harga dipengaruhi oleh komponen harga diatur pemerintah dengan kenaikan 17,57%, disusul komponen harga bergejolak dengan kenaikan 10,88% pada Desember 2014. Kenaikan harga BBM bersubsidi, membuat terjadi lonjakan pada harga pangan. Meski begitu, inflasi inti relatif terjaga yang tercatat 4,93% y-o-y pada Desember 2014 dibandingkan 4,04% pada September 2014. Inflasi umum pada Desember 2014 juga tidak jauh berbeda, meski lebih tinggi, dari Desember 2013 yang tercatat 8,38.

Inflasi inti masih relatif terkendali pada Februari 2015. Inflasi inti tercatat sebesar 4,96% y-o-y pada Februari 2015. Angka tersebut tidak jauh berbeda dibandingkan Desember 2014, tetapi lebih tinggi dari inflasi inti Febuari 2014 sebesar 4,57%. Inflasi inti dapat melambat didukung penurunan harga BBM di pertengahan Januari dan awal Februari 2015. Kemudian, tingkat harga secara umum menjadi lebih stabil sehingga menurunkan tekanan domestik. Di sisi lain, tekanan ekternal patut diwaspadai terkait depresiasi rupiah yang semakin tertekan sehingga harga barang impor dapat melonjak tajam. Namun, inflasi umum pada Februari 2015 yang tercatat 6,29% masih lebih rendah dari Februari 2014 yang sebesar 7,75%.

 

Tingkat Inflasi Menurut Kelompok Pengeluaran, 2011 – 2015 (2012=100, m-t-m, dalam %)
Kelompok pengeluaran transportasi deflasi mengikuti harga BBM, kelompok bahan makanan deflasi karena panen

Catatan: (1) Bahan Makanan; (2) Makanan Olahan, Minuman, Tembakau; (3) Perumahan, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar; (4) Sandang; (5) Kesehatan; (6) Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga; (7) Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan
Sumber: BPS dan CEIC (diolah, 2015)

 

Secara antar-bulan, tingkat harga umum menurun pada Februari 2015. Tingkat harga umum tercatat deflasi 0,36% m-t-m lebih besar dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,24%. Deflasi terjadi karena harga barang diatur pemerintah turun selama dua bulan terakhir. Komponen harga diatur pemerintah turun 1,24%. Tarif angkutan darat turun menyusul penurunan harga BBM pada pertengahan Januari dan awal Februari 2015. Bagi pengusaha transportasi, BBM menyumbang sekitar 30–35% dari biaya operasional sehingga tarif angkutan dapat diturunkan. Tingkat harga subkelompok pengeluaran transportasi turun 2,3% m-t-m pada Februari 2015 setelah bulan sebelumnya turun hingga 5,99%. Kemudian, kelompok pengeluaran bahan makanan juga turun 1,47%. Deflasi pada kelompok makanan disumbang oleh penurunan subkelompok bumbu-bumbuan dikarenakan beberapa komoditas memasuki masa panen antara lain cabai hijau, cabai merah, dan cabai rawit. Di sisi lain, harga beras yang termasuk dalam subkelompok padi-padian, umbi-umbian, dan hasilnya masih mengalami kenaikan yang tercatat sebesar 2,7% m-t-m meski akan memasuki masa panen. Inflasi beras diakibatkan oleh gangguan temporer logistik raskin pada November 2014 – Februari 2015. Secara antar-tahun, Februari 2015 mengalami inflasi sebesar 6,29% y-o-y, namun masih lebih rendah dibandingkan Februari 2014.

Inflasi September tercatat sebesar 3,58% y-o-y (BPS).  *  BI Repo Rate turun 0,25 pp menjadi 4,25 persen (Bank Indonesia)  *  Cadangan Devisa Indonesia kembali memecahkan rekor tertinggi pada September yakni sebesar US$ 129,4 (BI).  *  Info terbaru