|
A A

Quantitative Easing European Central Bank

Belum selesai dampak quantitative easing dan tapering off yang dilakukan oleh juru taktik kebijakan moneter The Fed, kini perekonomian global kembali dihadapkan pada kebijakan yang hampir serupa. Adalah Bank Sentral Eropa (ECB) melalui orang nomor satunya yaitu Mario Draghi memutuskan untuk melakukan kebijakan quantitative easing (QE) dalam konferensi persnya di Frankfurt, Jerman, 22 Januari 2015. Teknis pelaksanaan quantitative easing yang dilakukan oleh ECB adalah dengan membeli surat berhaga yang berasal dari sektor publik maupun swasta negara-negara di Eropa sebesar 60 miliar Euro tiap bulannya. Pelaksanaan kebijakan tersebut akan dimulai pada Bulan Maret 2015 hingga akhir September 2016. Sebagai informasi, quantitative easing merupakan suatu kebijakan moneter yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah uang beredar dimana pada akhirnya akan menurunkan tingkat suku bunga, sehingga perekonomian dapat kembali bergairah. Sektor riil mendapatkan dana murah untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Pelaksanaan kebijakan moneter nonkonvensional yang dilakukan oleh ECB tersebut tentunya bukan tanpa sebab. Kondisi ekonomi di negara-negara anggota Euro dapat dikatakan mengalami kelesuan ekonomi dimana pertumbuhan ekonomi rendah dan deflasi. Terlepas dari kasus default yang melanda Portugal, Italia, Yunani, dan Spanyol pada beberapa waktu lalu, perekonomian di negara anggota Euro mengalami deflasi hingga minus 0,2% pada Desember 2014 (y-o-y). Padahal, ECB menargetkan angka inflasi mendekati angka 2%, yang artinya hal tersebut masih jauh panggang dari api. Secara teoritis, inflasi juga merupakan salah satu indikator seberapa bergairah perekonomian itu. Perekonomian yang sedang lesu tersebut tentu ditanggapi oleh ECB dengan melakukan QE guna kembali menggairahkan perekonomian di Eropa.

QE bukan tanpa resiko. Resiko QE adalah apabila konsumen dan sektor riil di Eropa tidak mampu meminjam untuk menstimulasi perekonomian. Perekonomian terstimulasi apabila belanja swasta meningkat (tetapi saat ini swasta lebih fokus dalam membayar utangnya daripada belanja). Saat ini Eropa menghadapi masalah yang sama dengan AS yaitu sektor swasta tidak meminjam uang bahkan pada bunga 0%, dimana kebijakan moneter menjadi tidak berguna apabila jumlah uang beredar ditambah namun tidak ada yang meminjam uang yang merupakan esensi kebijakan moneter untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Belanja swasta juga pada akhirnya diharapkan akan mengurangi pengangguran. Saat ini perusahaan di Eropa sedang fokus membayar utang, sehingga perusahaan mungkin akan membayar utangnya terlebih dahulu daripada belanja modal.

Tujuan bank sebagai penyalur dana bagi sektor swasta untuk meningkatkan kapasitas produksinya baik dengan membeli peralatan, berinvestasi pada gedung baru, maupun mempekerjakan karyawan baru. Namun, bila bank lebih banyak meminjamkan uang untuk membeli properti maupun membeli aset berupa surat berharga misalnya, investasi pada gedung baru, peralatan baru, maupun karyawan baru tidak terjadi. Akibatnya perekonomian akan kesulitan untuk tumbuh.

Gelontoran uang dari program QE mungkin membuat harga properti akibat krisis global yang lalu kembali meningkat. Pemilik properti yang baru akan membayar lebih banyak untuk KPR daripada membeli barang dan jasa. Penghasilan kemudian lebih banyak dihabiskan untuk membayar utang yang mengurangi proporsi konsumsi barang dan jasa. Ini membuat permintaan atas barang dan jasa di perekonomian melemah, sehingga terjadi kelesuan.

Apabila yang terjadi adalah gelontoran uang ke dalam perekonomian digunakan sebagian besar untuk membeli saham dan obligasi, maka perekonomian mungkin akan susah untuk membaik. Tetapi apabila perbankan benar-benar menggunakan uang untuk membantu sektor riil melakukan belanja modal, maka kemungkinan bagi perekonomian Eropa untuk membaik lebih besar.
Imbas pada perekonomian global pada umumhya dan Indonesia pada khususnya adalah berpindahnya dana untuk masuk ke dalam pasar keuangan Eropa. Pelemahan rupiah terhadap Euro akan terjadi karena investor lebih tertarik berinvestasi di Eropa.

Terlepas dari perdebatan tepat atau tidaknya kebijakan yang dilakukan oleh ECB tersebut, dampaknya terhadap pasar saham langsung terasa sehari setelah Mario Draghi mengumumkan kebijakan tersebut. Indeks Euro Stoxx 50 (SX5E) pada tanggal 23 Januari 2015 mengalami peningkatan sebesar 59,9 poin atau 1,8% dibandingkan sehari sebelumnya. Sementara itu, ketika pelaksanaan quantitative easing yaitu pada Bulan Maret 2015, SX5E mencapai level 3.643 atau menguat sebesar 9,6% sejak pengumuman kebijakan tersebut. Kenaikan indeks harga saham Eropa di pasar saham tersebut menjadi salah satu sinyal mulai hidupnya pasar keuangan di Eropa karena para investor mulai melakukan ekspansi bisnisnya.

Defisit Neraca Perdagangan Januari – Desember 2018 (ytd) mencapai US$8,57 billion (BPS)  *  Inflasi Desember 2018 tercatat sebesar 3,13% y-o-y (BPS).  *  Neraca Pembayaran Indonesia pada September 2018 (Q3) mengalami defisit hingga US$4,39 Billion (BPS)  *  Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal 3 2018 mengalami defisit terdalam selama 5 tahun terakhir mencapai US$8,85 billion (BPS)  *  Info terbaru