|
A A

Semua Mata ke Fed

Bulan September ini adalah bulan penentuan. Tepatnya pada tanggal 16-17. Karena pada tanggal itu FOMC mengadakan pertemuan, yang diduga akan memutuskan kenaikan Fed Fund Rate (FFR) kali pertama sejak 7 tahun terakhir (berdasarkan Overview of FOMC participants). Persoalannya adalah, ketidakpastian meningkat akibat dari perlambatan ekonomi Tiongkok—yang kemudian membuat BoC menurunkan bunga, mendevaluasi Yuan, dan semakin menekan harga komoditas. Tak urung, Bank Dunia dan IMF meminta Fed mempertimbangkan kembali rencana kenaikan ini karena dikhawatirkan membuat emerging economies kelimpungan dan pertumbuhan ekonomi US dan global menurun.

Namun bagi Indonesia, barangkali akan lebih baik bila Fed segera menaikkan suku bunganya September ini dan memperlambat kecepatan kenaikan FFR selanjutnya. Karena bila tidak dinaikkan, ketidakpastian justru akan meningkat. Pasar tidak akan tahu apakah mereka sudah price in dollar dengan benar. Pada awal September ini, dolar sudah lebih dari Rp14.300 dan yield SUN tenor menengah naik 25 bps lebih dalam seminggu, begitu pula pasar saham yang melemah 1,2 persen ke level 4.300-an dan harga obligasi pemerintah yang turun 1,3 persen—juga dalam waktu seminggu. Mengingat pasar sepertinya akan terus-menerus meminta yield tinggi dan mendepresiasi Rupiah di pasar forward, imperatif bagi pemerintah untuk meninjau kembali besaran penerimaan pajak, belanja, dan defisit anggaran dalam RAPBN 2016 menjadi lebih konservatif (dan realistis).

Defisit Neraca Perdagangan Januari – Desember 2018 (ytd) mencapai US$8,57 billion (BPS)  *  Inflasi Desember 2018 tercatat sebesar 3,13% y-o-y (BPS).  *  Neraca Pembayaran Indonesia pada September 2018 (Q3) mengalami defisit hingga US$4,39 Billion (BPS)  *  Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal 3 2018 mengalami defisit terdalam selama 5 tahun terakhir mencapai US$8,85 billion (BPS)  *  Info terbaru