|
A A

Awan Mendung Perekonomian Amerika Serikat

Perekonomian Amerika Serikat nampaknya belum pulih dari krisis yang menimpa mereka beberapa tahun yang lalu. Jika diibaratkan seperti sebuah pesawat, pilot perekonomian Amerika Serikat belum menemui titik terang dan masih struggle melewati awan mendung (permasalahan-permasalahan) di sekitarnya. Indikator yang menjelaskan mengapa perekonomian Amerika Serikat dianggap belum menemui titik terang adalah indikator pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2015 yang mengalami penyusutan menjadi sebesar 0,7% (q-t-q). Angka tersebut mengalami revisi dari data preliminary yang dirilis pada awal Mei di mana perekonomian tumbuh sangat lambat yaitu sebesar 0,2% (q-t-q). Penyusutan ekonomi yang terjadi seolah mengingatkan kembali kejadian pada kuartal yang sama di tahun 2014 meskipun tidak seburuk pada saat itu yang menyusut hingga -2,1% (q-t-q).

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang mengalami penyusutan pada kuartal pertama tahun 2015 ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, rendahnya konsumsi masyarakat yang disebabkan oleh musim dingin yang ekstrim dan penurunan harga minyak dunia. Berdasarkan data dari Bureau of Economic Analysis konsumsi masyarakat Amerika Serikat hanya tumbuh sebesar 1,8% atau lebih rendah jika dibandingkan dengan konsumsi pada kuartal sebelumnya yang mencapai 4,4%. Kedua, menurunnya tingkat ekspor Amerika Serikat. Kebijakan moneter tappering off dan isu peningkatan suku bunga acuan yang dilakukan oleh The Fed beberapa waktu yang lalu menyebabkan nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap beberapa mata uang asing mengalami penguatan. Selain itu, adanya pemogokan pekerja pelabuhan di pesisir barat menambah permasalahan dari sisi perdagangan internasional Amerika Serikat.Sebagai informasi, neraca perdagangan mereka pada kuartal I-2015 tercatat defisit sebesar USD 51.367 miliar. Beberapa negara tujuan ekpor Amerika Serikat juga sedang mengalami periode ekonomi yang buruk. Kanada misalnya, negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar Amerika Serikat tersebut mengalami pertumbuhan negatif sebesar 0,6% (q-t-q) pada kuartal I-2015. Hal yang sama juga terjadi pada negara Meksiko yang merupakan pasar terbesar ketiga bagi produk-produk Amerika Serikat di mana pada kuartal I-2015 mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 0,4% (q-t-q) atau lebih lambat dibandingkan dengan kuartal IV-2014 yang mencapai 0,7% (q-t-q).

Kelesuan perekonomian Amerika Serikat yang terjadi juga menjadi salah satu argumen kuat bagi penasehat The Fed yang menentang kebijakan peningkatan suku bunga dan sekaligus memberikan secercah harapan bagi negara-negara berkembang yang perekonomiannya goyah akibat penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Kita tunggu saja apakah pilot perekonomian Amerika Serikat dapat menemukan titik terang pada kuartal II-2015.

Defisit Neraca Perdagangan Januari – Desember 2018 (ytd) mencapai US$8,57 billion (BPS)  *  Inflasi Desember 2018 tercatat sebesar 3,13% y-o-y (BPS).  *  Neraca Pembayaran Indonesia pada September 2018 (Q3) mengalami defisit hingga US$4,39 Billion (BPS)  *  Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal 3 2018 mengalami defisit terdalam selama 5 tahun terakhir mencapai US$8,85 billion (BPS)  *  Info terbaru