|
A A

Donald Trump dan Risiko

Donald Trump adalah sebuah faktor risiko. Kalau Anda melihat bagaimana dia berkampanye dengan pendapat-pendapat ekstrim di luar nalar sehat yang berani, nekat, dan bahkan menantang kemapanan, maka Donald adalah sebuah cerita risiko.

Cerita risiko inilah yang diangkat dalam IERO edisi kali ini, sejalan dengan ekspektasi–terutama di emerging economy–yang penuh VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) yang skalanya akan semakin tinggi disebabkan salah satunya oleh faktor Donald.

Masihkah Anda ingat isu paper tantrum? Reaksi pasar memindahkan dana dari emerging economy ke Amerika Serikat dulu telah menjatuhkan banyak sekali harga mata uang domestik negara berkembang. Dan, ekspektasi terhadap kebijakan Donald, kalau tidak bisa dicegah, akan menuju ke arah itu.

Menilai rencana Donald untuk memangkas pajak dalam revisi proposal pajaknya, yang secara signifikan minimal ada lima, yaitu: (1) mengurangi tarif pajak marjinal, (2) meningkatkan jumlah pemotongan pajak standar, (3) mencabut pembebasan pajak pribadi, (4) mengenakan capping pemotongan pajak secara terperinci, dan (5) memberi kesempatan kepada bisnis untuk memilih beban investasi baru dan tidak mengurangi beban bunga.

Proposal Donald ini akan memotong pajak pada semua tingkat pendapatan, meskipun manfaat terbesar akan diterima oleh rumah tangga dengan pendapatan tertinggi. Diperkirakan, pendapatan Amerika akan turun $ 6,2 triliun selama dekade pertama. Termasuk faktor-faktor tersebut, utang federal akan naik setidaknya $7 triliun selama dekade pertama dan setidaknya akan menjadi $20,7 triliun sampai pada tahun 2036.

pe1

Sumber: foreffectivegov.org

Dengan turunnya pendapatan Amerika, ditambah dengan rencana pengeluaran yang membesar di bidang infratruktur, diperkirakan rencana Donald akan membengkakkan defisit anggaran untuk mendongkrak produktivitas ekonomi. Alhasil, mau tidak mau defisit ini akan dibayar dengan obligasi dengan kupon yang tinggi agar menarik investor. Inilah muasal paper tantrum yang diduga akan kembali hadir.

pe2

Sumber: conservativeview.org

Karena itulah, di dalam negeri, kebijakan Menkeu Sri Mulyani Indrawati yang memangkas beban pajak domestik, seperti menemukan tambahan justifikasi. Defisit APBN Indonesia yang semakin besar tentu bukan pilihan yang menguntungkan bagi mata uang Rupiah. Maka, seandainya skenario Trump benar terjadi, maka minimal dampak kebijakan Trump kepada perekonomian Indonesia, mengecil.

Selain risiko di atas, risiko yang jauh lebih besar juga menghadang. Risiko itu adalah risiko yang akan dihadapi oleh The Fed, dan kembalinya ke standar emas!

John Allison, seorang kandidat kuat pilihan Donald yang akan menduduki Treasury Secretary (Menteri Keuangan) Amerika, mantan CEO Winston-Salem, NC-based bank BB&T dan juga mantan think-tank Cato Institute, memberi hint, bahwa dia akan menerapkan kembali standar emas terhadap exchange rate system, saat Janet Yellen, chairman The Fed mengakhiri jabatannya di tahun 2018.

Isu kebijakan ini ditingkahi dengan pendapat berikutnya, yang tentu akan menimbulkan semacam “roller-coaster” di pasar finansial, yaitu rencana abolishing (membubarkan) The Fed. Respon John Allison searah terhadap kampanye saat pencalonan Trump sebagai Presiden Amerika, saat Trump menyebut-nyebut ide mengenai terlalu independent-nya The Fed secara politis.

Pada saat menjabat sebagai Direktur Cato Institute, Allison mempublikasikan beberapa tulisan mengenai obsolete (usangnya) sistem The Fed, dan mengindikasikan pembubaran, terutama karena The Fed dianggap sebagai penghambat kekuatan para bilyuner beserta kroninya yang akan mengembangkan perbankan global.

Bahkan di tahun 2014, Allison sempat menuliskan sebab utama volatilitas di pasar finansial adalah karena adanya The Fed. Allison menuliskan ide itu di Cato Journal.

Secara demikian, jika rencana dan pandangan-pandangan tersebut kemudian benar-benar diimplementasikan, maka Indonesia ekstra hati-hati dan berjaga-jaga dengan sangat ketat untuk menghindari jebakan-jebakan di pasar finansial yang tentu saja menjadi lebih serba bergejolak dan serba tidak pasti.

Akhirnya, seperti yang disampaikan oleh seorang Professor dari Harvard University dalam Harvard Business Review, Nate Bennett, yang mengatakan bahwa, dalam dunia yang semakin cepat berubah ini, maka VUCA adalah tantangan yang tiada pernah berakhir. Dan kali ini, tantangannya berasal dari risiko kebijakan calon Presiden Amerika, Trump, beserta kroninya yang idiosinkratik, Allison, yang akan membubarkan The Fed dan mengembalikan sistem standar emas. What a VUCA. What a challenge!

Inflasi September tercatat sebesar 3,58% y-o-y (BPS).  *  BI Repo Rate turun 0,25 pp menjadi 4,25 persen (Bank Indonesia)  *  Cadangan Devisa Indonesia kembali memecahkan rekor tertinggi pada September yakni sebesar US$ 129,4 (BI).  *  Info terbaru