|
A A

GAMA Leading Economic Indicator dan Economic Outlook 2014:IV

1. GAMA Leading Economic Indicator

Leading Economic Indicator merupakan salah satu model early warning system untuk memprediksi arah pergerakan ekonomi satu kuartal ke depan. Tim Macroeconomic Dashboard FEB UGM mengembangkan model GAMA Leading Economic Indicator (GAMA LEI) dengan menggunakan uji kuantitatif dan kualitatif untuk menghasilkan prediksi terbaik. Titik balik serta kenaikan/penurunan pada model GAMA LEI digunakan untuk memprediksi arah pergerakan perekonomian Indonesia satu kuartal ke depan.
GAMA LEI disusun dari berbagai macam indikator yang telah melewati uji statistik yang ketat. Kinerja pada variabel makro seperti investasi, konsumsi semen, dan jumlah wisatawan yang datang serta kapitalisasi pasar saham BEI dan indeks komposit NYSE dari pasar modal cukup berpengaruh pada kondisi perekonomian. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa beberapa indikator ekonomi makro lainnya dapat berubah dengan cepat dalam beberapa waktu ke depan.

Gambar 17: GAMA Leading Economic Indicator
GAMA LEI memprediksikan kecenderungan penurunan siklus perekonomian Indonesia yang masih berlanjut

g 17
Sumber: Estimasi Tim Macdash (2015)

GAMA LEI mampu menghasilkan perkiraan siklus perekonomian (PDB) Indonesia dengan akurat pada beberapa waktu sebelumnya. GAMA LEI yang dihasilkan edisi-edisi sebelumnya pada tahun 2014 ini telah telah berhasil memprediksi perlambatan ekonomi selama tiga kuartal, yaitu pada kuartal I hingga kuartal III tahun 2014. GAMA LEI juga masih memprediksikan kinerja perekonomian Indonesia yang menunjukkan perlambatan pada kuartal IV tahun 2014. Hal tersebut disebabkan adanya penurunan kinerja pada beberapa indikator kunci perekonomian Indonesia yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi menurun dibandingkan kuartal sebelumnya.
Keberagaman pola pada pertumbuhan ekonomi Indonesia serta proyeksi siklus perekonomian dalam model GAMA LEI menghasilkan peramalan yang komprehensif. Peramalan siklus bisnis menekankan pada pergerakan siklus perekonomian apakah berada pada fase ekspansi atau kontraksi dalam beberapa waktu ke depan. Siklus PDB yang dihasilkan dalam model mengalami pergerakan menurun walaupun dalam fase ekspansi (berada di atas nilai 100). Dalam hal ini PDB Indonesia pada kuartal III-2014 secara year-on-year tercatat meningkat, namun dengan pertumbuhan yang melambat.  Begitu pula yang terjadi pada Siklus GAMA LEI kuartal III-2014, hal ini berarti pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2014 memiliki arah menurun walaupun berada pada fase ekspansi (berada di atas nilai 100).
Hasil prediksi GAMA LEI pada edisi ini menghasilkan adanya kecenderungan penurunan siklus perekonomian (PDB) Indonesia. Model GAMA LEI pada kuartal III-2014 menunjukan perubahan arah pergerakan perekonomian yang menurun. Pergerakan GAMA LEI yang menurun menghasilkan prediksi penurunan siklus perekonomian (PDB) Indonesia pada kuartal IV-2014. Tahun 2014 diwarnai oleh perhelatan politik dan juga ketidakpastian kondisi ekonomi akibat kenaikan harga BBM. Pemerintah baru kini lebih berpihak pada pengetatan belanja negara, terutama belanja subsidi BBM. Diharapkan dana yang tadinya dialokasikan untuk subsidi BBM dapat dialokasikan kembali untuk hal-hal yang lebih produktif seperti belanja modal. Dalam jangka pendek perekonomian mungkin akan mengalami perlambatan, namun dalam jangka panjang diharapkan perekonomian dapat tumbuh dengan cepat. Jokowi-JK berserta kabinetnya telah mampu memberikan harapan dan optimisme bagi perekonomian Indonesia. Walaupun demikian, masyarakat masih cenderung menunggu (wait and see) kinerja yang sebenarnya dari pemerintah baru. Oleh karena itu, pemerintahan harus mampu memanfaatkan momentum dengan menjaga atau bahkan meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia.

2. Konsensus Proyeksi Indikator Makroekonomi
Hasil konsensus menunjukkan nilai tiga indikator makro utama Indonesia yaitu pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan nilai tukar. Konsensus diperoleh berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim Macroeconomic Dashboard dengan responden dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.
Secara umum, prediksi pertumbuhan PDB riil (y-o-y) kuartal IV-2014 bergerak memburuk dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan PDB riil kuartal III-2014. PDB riil (y-o-y) diprediksi tumbuh sebesar 4,97% ± 0,15%  pada kuartal IV-2014 dan 5,13% ± 0,21% pada kuartal I-2015. Adapun secara tahunan, prediksi pertumbuhan PDB riil 2014 dan 2015 masing-masing sebesar 5,00% ± 0,10% dan 5,3% ± 0.2% . Menurut survei yang dilakukan, tiga faktor utama penentu terjadinya penurunan pertumbuhan PDB riil di tahun 2014 adalah kondisi perekonomian dunia, tingkat investasi domestik dan asing, serta daya beli masyarakat.
Inflasi Indonesia tahun 2014-2015 diprediksi berada pada kisaran 6 hingga 7 persen. Tahun 2014, hasil prediksi inflasi Indonesia adalah sebesar 6,50% ± 1,77%. Tahun 2015 nilainya bergerak meningkat menjadi 5,67% ± 1,41%. Sementara itu secara kuartalan, inflasi di Indonesia pada kuartal IV-2014 dan I-2015 masing-masing sebesar 6,83% ± 1,41% dan 6,17% ± 3,18%. Menurut survei yang dilakukan, tiga faktor utama penentu terjadinya kenaikan inflasi di tahun 2014 adalah subsidi pemerintah, harga komoditas dunia, dan kondisi kurs rupiah.
Nilai tukar rupiah diprediksi masih di sekitar nilai IDR/USD 12.000 pada tahun 2014. Pada kuartal IV-2014 nilai tukar rupiah diperkirakan sebesar IDR/USD 12.100 ± IDR/USD 100. Di kuartal berikutnya, nilai tukar rupiah sedikit menguat menjadi IDR/USD 12.033 ± IDR/USD 58. Sementara itu secara tahunan, nilai tukar rupiah tahun 2014 adalah IDR/USD 12.200 ± IDR/USD 265 dan tahun 2015 menguat menjadi IDR/USD 11.767 ± IDR/USD 252. Menurut survei yang dilakukan, tiga faktor utama penentu terjadinya kenaikan pertumbuhan apresiasi nilai tukar rupiah di tahun 2014 adalah kondisi ekonomi Indonesia, tingat inflasi, dan kinerja neraca pembayaran.

Tabel 9: Estimasi Pertumbuhan PDB Riil (y-o-y, dalam %)

t 9

Sumber: Data Primer; diolah (2014)

Tabel 10: Estimasi Inflasi (y-o-y, dalam %)

t 10

Sumber: Data Primer; diolah (2014)

Tabel 11: Estimasi Nilai Tukar Rupiah (IDR/USD)

t 11

Sumber: Data Primer; diolah (2014)

 

3. Economic Outlook
Ekonomi Indonesia menghadapi permasalahan yang berat karena rendahnya kualitas pembangunan ekonomi sedang mengalami tren penurunan pertumbuhan ekonomi sejak 2011. Kabinet Indonesia Kerja yang dilantik 27 Oktober 2014 yang lalu nampaknya belum bisa memberikan optimisme kepada masyarakat dan pelaku pasar, mengingat masalah, tantangan dan ancaman ekonomi yang dihadapi oleh Indonesia masih berat. Apalagi pasca kenaikkan harga BBM pada pertengahan November 2014 yang lalu inflasi meningkat menjadi 6,23% dan rupiah mengalami pelemahan 0,94% (m-t-m) pada bulan November 2014. Kondisi tersebut direspon oleh BI dengan kenaikkan BI Rate 25 basis poin pada 18 November 2014. Demikian juga laju pertumbuhan ekonomi kuartal 3 tahun 2014 masih menurun menjadi 5,01%, yang banyak ditopang oleh pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah. Sementara itu pertumbuhan investasi masih menunjukkan tren yang terus menurun. Dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut membuat tingkat pengangguran pada bulan Agustus 2014 meningkat menjadi 5,94%. Sementara itu Transaksi Berjalan masih defisit meski menurun menjadi USD 6,84 miliar. Oleh karena itu Gama LEI meramalkan kecenderungan penurunan siklus ekonomi masih akan berlangsung jika tidak ada perubahan dalam pengelolaan ekonomi. Untuk  itu diharapkan otoritas ekonomi mengubah pengelolaan ekonominya, tidak  business as usual agar tren penurunan pertumbuhan ekonomi tidak terus berlangsung. Apalagi akhir 2015 kita akan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community. Dimana keberhasilan Indonesia memanfaatkan pembukaan pasar yang luas dalam masyarakat ASEAN akan banyak tergantung kepada kualitas pembangunan ekonomi kita. Kualitas pembangunan ekonomi yang tinggi yang didukung oleh daya saing internasional yang tinggi, kualitas manusia yang unggul, logistik yang efisien, serta kelembagaan yang baik akan membuat Indonesia siap menghadapi MEA. Untuk itu kita berharap agar pemerintah baru serta otoritas ekonomi lainnya mengubah pengelolaan ekonominya, agar tren penurunan pertumbuhan ekonomi dapat dibalik dan pembangunan ekonomi berkualitas, sehingga kita siap menghadapi MEA.

Defisit Neraca Perdagangan Januari – Desember 2018 (ytd) mencapai US$8,57 billion (BPS)  *  Inflasi Desember 2018 tercatat sebesar 3,13% y-o-y (BPS).  *  Neraca Pembayaran Indonesia pada September 2018 (Q3) mengalami defisit hingga US$4,39 Billion (BPS)  *  Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal 3 2018 mengalami defisit terdalam selama 5 tahun terakhir mencapai US$8,85 billion (BPS)  *  Info terbaru