|
A A

Indikasi Membaiknya Perekonomian Indonesia

Jika kita mempelajari data Februari 2016, indikator makroekonomi Indonesia seperti kurs, cadangan devisa, inflasi, IHSG, yield obligasi, dan juga neraca perdagangan terlihat lebih baik. Lalu, apakah perbaikan statistik tersebut juga memberi indikasi perbaikan ekonomi Indonesia?

Mari kita lihat bagaimana perkembangan kondisi pasar finansial yang semakin membaik, setidaknya sebulan terakhir. Indeks harga saham kembali melejit dan yield obligasi tenor 10 tahun terus menurun. Investor asing membukukan pembelian neto sebesar Rp4,11 triliun selama Februari 2016, sedangkan di pasar obligasi pemerintah mencatat pembelian neto sebesar Rp19,8 triliun selama Januari 2016. Terjadi pula penguatan kurs rupiah terhadap dolar AS pada level Rp13.128 per dolar AS (JISDOR, 8 Maret 2016). Sementara itu, real exchange rate rupiah terhadap dolar AS juga membaik pada Januari 2016. Cadangan devisa Indonesia pun pada gilirannya kembali membaik, sebesar USD 104,54 miliar, naik signifikan dibandingkan Januari 2016. Indonesia kembali mampu menarik dana asing ke pasar finansial.

Namun, perlu juga dicatat bahwa pergerakan investasi asing sangat tergantung pada kondisi ekonomi global. Hingga awal Maret 2016, pasar global masih berfluktuasi. Bursa-bursa saham besar di Eropa sempat menghadapi kekhawatiran likuiditas perbankan. Selain itu, European Central Bank (ECB) masih akan meneruskan kebijakan quantitative easing didukung kebijakan suku bunga negatif. Hal serupa juga terjadi di Jepang. Bank of Japan mengeluarkan kebijakan suku bunga negatif di tengah pergolakan pasar saham domestiknya. Suku bunga acuan The Federal Reserve, Federal Funds Rate, pun belum akan dinaikkan.

Di sisi lain, masalah yang terjadi sejak pertengahan tahun 2015 masih berlanjut, yakni pelemahan ekonomi Tiongkok dan rendahnya harga komoditas seperti minyak bumi, CPO, dan batu bara. Dinamika ekonomi global yang demikian membuat pilihan investasi dunia menjadi terbatas sehingga akhirnya “lari” ke investasi “aman” seperti obligasi negara, terutama negara maju. Pasar menilai, kebijakan moneter saat ini tidak mampu memengaruhi kondisi pasar.

Sementara itu, Inflasi pada Februari 2016 tercatat sebesar -0,09 persen m-t-m atau 4,42 persen y-o-y, yakni terjadi deflasi jika dilihat secara antarbulan. Hal ini disebabkan karena penurunan harga ayam dan telur—yang harganya bergantung pada impor bahan baku pakan ternak—bawang merah, penurunan harga listrik dan gas LPG, tarif angkutan udara, serta BBM. Inflasi inti pun ikut melambat. Namun, secara historis, inflasi Februari hampir selalu tercatat lebih rendah dari bulan sebelumnya.

Di sisi lain, neraca perdagangan tercatat surplus tipis pada Januari 2016 setelah bulan sebelumnya defisit. Surplus tersebut didukung oleh penurunan defisit neraca perdagangan migas terkait penurunan harga minyak dunia, sedangkan surplus neraca perdagangan nonmigas berkurang. Hal tersebut disebabkan oleh pengurangan ekspor nonmigas yang lebih banyak dibandingkan impor nonmigas.

Perbaikan data indikator makro ekonomi Indonesia lebih banyak disebabkan faktor eksternal dibandingkan internal (perbaikan fundamental ekonomi Indonesia). BI Rate kembali diturunkan ke level 7 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18 Februari 2016 lalu dengan salah satu pertimbangan menurunnya tekanan eksternal. Pertumbuhan ekonomi Indonesia perlahan membaik: kuartal III-2015 tumbuh 4,73 persen dan kuartal IV-2015 tumbuh 5,04 persen. Kebijakan penurunan suku bunga acuan BI dirasa tepat saat ini. Macroeconomic Dashboard juga memperkirakan ekonomi kuartal I-2016 akan kembali tumbuh pada kisaran 5,10 persen – 5,15 persen.

Defisit Neraca Perdagangan Januari – Desember 2018 (ytd) mencapai US$8,57 billion (BPS)  *  Inflasi Desember 2018 tercatat sebesar 3,13% y-o-y (BPS).  *  Neraca Pembayaran Indonesia pada September 2018 (Q3) mengalami defisit hingga US$4,39 Billion (BPS)  *  Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal 3 2018 mengalami defisit terdalam selama 5 tahun terakhir mencapai US$8,85 billion (BPS)  *  Info terbaru