|
A A

Lingering Uncertainty

Federal Reserve dalam rapat FOMC 16-17 Juni 2015 memutuskan untuk menahan target suku bunganya di tingkat 0-0,25 persen seperti sejak tahun 2008. Buat sebagian, keputusan Fed ini melegakan. Buat sebagian yang lain keputusan Fed untuk menunda kenaikan Federal Funds Rate (FFR) ibarat menahan bisul yang sudah lama mau pecah.

Fed melalui Bernanke pada saat itu, sudah woro-woro hendak menaikkan suku bunga dengan cepat pada tanggal 1 Maret 2013 atau yang kemudian dikenal dengan istilah tapper tantrum. Sontak akibat dari pernyataannya itu, kapital meninggalkan emerging markets karena yield obligasi pemerintah Amerika Serikat naik mengantisipasi kenaikan FFR. Nyatanya, sampai dengan Yellen menggantikan Bernanke, FFR belum juga dinaikkan. Namun, sejak Maret 2013 itu, pasar terus-menerus galau: apakah melihat laporan ketenagakerjaan AS, inflasi AS, apalagi di hari-hari menjelang rapat FOMC. Situasi ketidakpastian ini terus mengapung di udara.

Kita tentu sangat menghargai kehati-hatian Fed, juga empatinya (kalau ada) terhadap emerging markets yang diperkirakan paling tertekan akibat kenaikan ini. Namun, ketidakpastian yang berkepanjangan jelas bukan juga situasi yang diharapkan oleh Indonesia. Bank Indonesia jadi semakin sulit menentukan posisi kebijakannya dalam situasi Rupiah bergejolak, pengangguran tinggi, inflasi tinggi, dan pertumbuhan melambat. Jadi, naikkan saja, Fed. Sekali saja dulu, tahun ini. Karena, we’ll never know how bad it is unless you do it. It can’t be worse than now.

Defisit Neraca Perdagangan Januari – Desember 2018 (ytd) mencapai US$8,57 billion (BPS)  *  Inflasi Desember 2018 tercatat sebesar 3,13% y-o-y (BPS).  *  Neraca Pembayaran Indonesia pada September 2018 (Q3) mengalami defisit hingga US$4,39 Billion (BPS)  *  Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal 3 2018 mengalami defisit terdalam selama 5 tahun terakhir mencapai US$8,85 billion (BPS)  *  Info terbaru