|
A A

Meneropong Rupiah

Pada bulan 17 Februari lalu Bank Indonesia secara mengejutkan menurunkan tingkat suku bunga acuan. Sejak saat itu, Rupiah sudah terdepresiasi puncaknya hingga 2,6 persen pada 5 Maret lalu.
BI berargumen penurunan BI Rate pada Februari lalu mengikuti penurunan ekspektasi inflasi tahun 2015 dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Meskipun argumen ini benar, namun penurunan BI Rate di saat ekonomi domestik dan global sedang begitu tidak pasti mengandung risiko.
Tren depresiasi Rupiah memang tidak dapat dihindarkan sejalan defisit CA yang ada dan akan dinaikkannya suku bunga oleh Fed. Menahan Rupiah “kuat” juga tidak baik karena akan menyebabkan pasar tidak melihat the real value dari dolar. Namun, depresiasi yang besar membuat orang berhitung, apakah memegang aset berbasis Rupiah menguntungkan. Depresiasi Rupiah jelas menggerus rate of returnon top dari inflasi.  
Dalam situasi dimana asing cukup besar porsinya di dalam pasar SBN dan pasar modal Indonesia, dan rapor ekonomi Amerika yang mixed, dan ekonomi Jepang, Eropa, Brazil, Russia, India, dan China yang tidak pasti, sepertinya mempertahankan BI Rate pada tingkat 7,5% dan sesekali mengintervensi pasar valas (ketika denyut jantung pasar tak teratur) adalah kebijakan yang cukup logis dipilih oleh BI. 

Defisit Neraca Perdagangan Januari – Desember 2018 (ytd) mencapai US$8,57 billion (BPS)  *  Inflasi Desember 2018 tercatat sebesar 3,13% y-o-y (BPS).  *  Neraca Pembayaran Indonesia pada September 2018 (Q3) mengalami defisit hingga US$4,39 Billion (BPS)  *  Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal 3 2018 mengalami defisit terdalam selama 5 tahun terakhir mencapai US$8,85 billion (BPS)  *  Info terbaru