|
A A

Saatnya Ekspansi

Sejak Januari hingga Maret 2016, BI Rate telah diturunkan tiga kali: dari 7,5 persen ke 7,25 persen (pada 14 Januari 2016), dari 7,25 persen ke 7,00 persen (pada 18 februari 2016), dan dari ke 7,00 ke 6,75 persen (pada 17 Maret 2016). Pemangkasan ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih jauh lagi. Sebabnya, tren pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat terus melambat—dari 6,81 persen pada 2010 sampai dengan 4,79 persen pada 2015. Pertumbuhan PDB riil tahunan Indonesia pada tahun 2015 (4,79 persen) pun adalah yang terendah selama enam tahun terakhir.

Masalahnya, laju inflasi di Indonesia cenderung rendah pada tahun 2015—hanya 3,35 persen. Insentif kerja pun turun. Implikasinya, pada Agustus 2015 kondisi ketenagakerjaan memburuk: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) naik signifikan dari 5,18 persen (Februari 2015) ke 6,18 persen (Agustus 2015) sementara jumlah pengangguran bertambah sekitar 120 ribu orang dari (7,45 juta orang ke 7,56 juta orang per Agustus 2015). Penurunan BI Rate salah satunya dimaksudkan untuk mengatasi persoalan ini. Turunnya BI Rate diharapkan meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga menstimulasi produktivitas dan menghasilkan lapangan pekerjaan baru (growth-led job).

Selain faktor domestik, masih berlangsungnya global slowdown—terutama di Tiongkok, yang sedang mengalami kejenuhan investasi infrastruktur dan kenaikan tingkat upah—menambah urgensi penurunan BI Rate. Di kuartal terakhir 2015, pertumbuhan ekonomi negara-negara mitra dagang utama Indonesia seperti AS, Tiongkok, dan Jepang melambat. Ini menimbulkan tekanan sisi permintaan ekspor Indonesia.

Keputusan BI untuk memangkas suku bunga acuan juga dapat dilihat sebagai upaya menangkap peluang yang muncul ketika Bank of Japan (BOJ) dan European Central Bank (ECB) masih mempertahankan suku bunga negatif dan ekonomi global tengah berada di dalam kondisi yang relatif stabil. Implementasi tingkat suku bunga negatif di negara-negara maju menjadikan dana tidak otomatis keluar dari Indonesia setelah BI Rate turun. Artinya, kemungkinan terjadinya mass capital outflow tidaklah besar.

Perlu diingat pula bahwa turunnya tingkat suku bunga berbanding lurus dengan turunnya cost of credit. Insentif bagi sektor produktif untuk melakukan pinjaman untuk berinvestasi akan naik. Alhasil, produktivitas meningkat dan ekonomi tumbuh lebih cepat. Sayangnya, saat ini suku bunga kredit di Indonesia masih terbilang tinggi, sehingga berkurangnya cost of credit tadi belum dapat terealisasi.

Ada beberapa alasan kenapa suku bunga kredit belum juga turun. Pertama, kondisi likuiditas setiap bank berbeda, sehingga waktu yang dibutuhkan setiap bank untuk menyesuaikan bunga kredit mereka dengan tingkat suku bunga acuan pun beragam. Kedua, dengan mengingat konsep suku bunga sebagai risk premium, struktur aset dan risiko industri perbankan di Indonesia bervariasi—kemampuan penurunan segera suku bunga kredit pada bank besar dan bank kecil tentu tidak bisa disamakan. Terakhir, penurunan BI Rate terakhir terbilang belum lama efektif dilakukan pada pertengahan Maret lalu, sehingga ada kemungkinan belum sempurnanya perluasan dampak kebijakan ini. Mari kita nantikan.

Defisit Neraca Perdagangan Januari – Desember 2018 (ytd) mencapai US$8,57 billion (BPS)  *  Inflasi Desember 2018 tercatat sebesar 3,13% y-o-y (BPS).  *  Neraca Pembayaran Indonesia pada September 2018 (Q3) mengalami defisit hingga US$4,39 Billion (BPS)  *  Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Kuartal 3 2018 mengalami defisit terdalam selama 5 tahun terakhir mencapai US$8,85 billion (BPS)  *  Info terbaru