Home » Tak Berkategori » Perkembangan Internasional 2013:IV

Perkembangan Internasional 2013:IV

Kinerja neraca perdagangan Indonesia membaik pada bulan Oktober 2013. Kinerja neraca perdagangan Indonesia yang pada September 2013 turun menjadi defisit USD 0,8 miliar, kembali meningkat menjadi surplus USD 0,04 miliar pada Oktober 2013. Membaiknya kinerja neraca perdagangan ini ditopang oleh nilai ekspor yang meningkat sebesar 6,9% dari bulan September 2013, disaat impor hanya naik sebesar 1,06% pada periode yang sama.

Gambar 15: Neraca Perdagangan, 2011 – 2013*
Neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada Oktober 2013.

Sumber: Badan Pusat Statistik dan CEIC (2013)

* =  Oktober 2013

Dilihat dari sisi neraca perdagangan migas dan non migas, perbaikan kinerja neraca perdagangan pada Oktober 2013 didukung oleh menurunnya defisit neraca perdagangan migas dan meningkatnya surplus neraca perdagangan nonmigas. Neraca perdagangan nonmigas meningkat dari surplus USD 0,5 miliar pada September 2013 menjadi surplus USD 0,79 miliar pada Oktober 2013, sedangkan pada periode yang sama defisit neraca perdagangan migas turun dari defisit USD 1,3 miliar menjadi defisit USD 0,7 miliar. Penurunan defisit neraca perdagangan migas pada Oktober 2013 disebabkan oleh meningkatnya ekspor migas sebesar 12,8% disaat impor migas turun 6,5% dari September 2013. Penurunan impor migas terutama terjadi pada impor migas jenis premium atau RON 88. Penurunan impor migas jenis premium ini menunjukkan konsumsi migas dalam negeri yang mulai menurun. Sedangkan dari sisi neraca perdagangan nonmigas, peningkatan nilai ekspor nonmigas sebesar 5,7% merupakan faktor utama yang menyebabkan surplus neraca perdagangan nonmigas meningkat.

Secara kumulatif dari bulan Januari-Oktober 2013 neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit USD 6,4 miliar. Jumlah ini meningkat drastis dari defisit neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Oktober 2012 yang hanya USD 0,85 miliar.

 

Gambar 16: Neraca Perdagangan Migas, 2011 – 2013*
Defisit neraca perdagangan migas kembali menurun.

Sumber: Badan Pusat Statistik dan CEIC (2013)

* =  Oktober 2013

Kinerja neraca perdagangan migas mengalami perbaikan pada Oktober 2013. Neraca perdagangan migas yang semula deifisit USD 1,3 miliar pada September 2013, menurun menjadi defisit USD 0,7 miliar pada Oktober 2013. Penurunan defisit neraca perdagangan ini ditopang oleh meningkatnya ekspor migas sebesar 12,8% (m-t-m), disaat impor migas menurun sebesar 5,7% (m-t-m).

Ekspor migas yang meningkat pada Oktober 2013 ditopang oleh peningkatan ekspor hasil minyak dan gas. Pada Oktober 2013, ekspor hasil minyak meningkat sebesar 27,2% dan ekspor gas meningkat sebesar 43,4% dari September 2013. Sementara itu, pada periode yang sama ekspor minyak mentah sebaliknya tercatat menurun 26,6%. Peningkatan juga terjadi pada sisi volume ekspor migas yang meningkat sebesar 2,8% dari bulan September 2013. Meskipun volume ekspor meningkat pada Oktober 2013, namun dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, produksi minyak Indonesia terus menurun hingga 30%. Lebih buruk lagi, situasi di lapangan menunjukkan bahwa produksi migas lebih gencar dilakukan daripada penemuan cadangan minyak baru, hal ini menyebabkan semakin berkurangnya cadangan minyak dan gas Indonesia. Dari sisi harga, harga minyak mentah Indonesia (ICP) mengalami penurunan dari yang sebelumnya USD 109,69 barel pada bulan September 2013 menjadi USD 106,39 barel pada Oktober 2013. Penurunan harga ICP ini antara lain disebabkan oleh beberapa faktor antara lain melemahnya perekonomian dunia yang diindikasikan dengan penurunan perkiraan angka pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, belum membaiknya tingkat pertumbuhan ekonomi negara-negara zona Eropa, dan meningkatnya produksi minyak mentah OPEC yang disebabkan situasi politik negara Timur Tengah yang mulai stabil.

Dari sisi impor migas, penurunan nilai impor migas menyebabkan kinerja neraca perdagangan migas membaik. Penurunan impor migas pada Oktober 2013 terutama disebabkan oleh menurunnya impor gas sebesar 24,8% yang diikuti penurunan impor minyak mentah sebesar 6,6% dan impor hasil minyak sebesar 4,2% dari bulan September 2013.

Secara keseluruhan dari Januari-Oktober 2013 neraca perdagangan migas Indonesia tercatat defisit USD 10,6 miliar. Nilai ini memburuk jika dibandingkan dengan neraca perdagangan migas pada Januari-Oktober 2012 yang defisit USD 3,5 miliar. Memburuknya neraca perdagangan pada periode ini disebabkan oleh penurunan nilai ekspor migas dan meningkatnya nilai impor migas.

 

Gambar 17 : Neraca Perdagangan Nonmigas, 2011 – 2013*
Surplus neraca perdagangan non migas kembali meningkat.

Sumber: Badan Pusat Statistik dan CEIC (2013)

* =  Oktober 2013

Kinerja neraca perdagangan nonmigas meningkat pada Oktober 2013. Neraca perdagangan nonmigas yang semula surplus USD 0,5 miliar pada September 2013, meningkat menjadi surplus USD 0,79 miliar pada Oktober 2013. Peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas pada Oktober 2013 ini disebabkan oleh nilai ekspor migas yang meningkat sebesar 5,7% (m-t-m),  lebih besar dari peningkatan impor nonmigas yang hanya meningkat sebesar 3,4% (m-t-m).

Peningkatan ekspor nonmigas terbesar pada Oktober 2013 terjadi pada komoditas bahan bakar mineral yang meningkat sebesar USD 107,5 juta (m-t-m), komoditas bijih, kerak, dan abu logam sebesar USD 86,8 juta(m-t-m), dan karet dan barang dari karet sebesar USD 70,9 juta (m-t-m). Tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada Oktober 2013 masih diduduki oleh negara Cina, Jepang, dan Amerika Serikat. Dari sisi impor nonmigas, peningkatan impor nonmigas pada Oktober 2013 terbesar terjadi pada golongan serealia yang meningkat sebesar 85,5% (m-t-m). Masyarakat yang saat ini gemar mengkonsumsi gandum menyebabkan impor serealia ikut terdongkrak. Per-tahunnya, nilai impor gandum Indonesia mencapai USD 5 miliar. Nilai impor nonmigas terbesar selanjutnya diikuti oleh golongan sisa industri makanan yang meningkat sebesar 67,6% (m-t-m), bahan kimia organik sebesar 13,74% (m-t-m), dan kendaraan bermotor dan bagiannya 9,36% (m-t-m).

Secara kumulatif dari Januari-Oktober 2013, kinerja neraca perdagangan nonmigas meningkat jika dibandingkan dengan kinerja neraca perdagangan nonmigas pada Januari-Oktober 2012. Neraca perdagangan nonmigas meningkat dari surplus USD 2,6 miliar pada Januari-Oktober 2012 menjadi surplus USD 4,3 miliar pada Januari-Oktober 2013. Sementara itu, besarnya impor nonmigas pada Januari-Oktober 2013 terutama disumbang oleh golongan mesin dan peralatan mekanik sebesar 18,92% (y-o-y) serta mesin dan peralatan listrik sebesar 12,98% (y-o-y). Meski laju pertumbuhan sektor industri menurun namun komponen impor pada sektor industri Indonesia pada periode Januari-Oktober 2013 masih cukup besar.

 

Gambar 18: Transaksi Berjalan Indonesia, 2009 – 2013*
Meskipun masih tercatat defisit, namun terjadi sedikit perbaikan pada neraca transaksi berjalan Indonesia.

Sumber: Bank Indonesia dan CEIC (2013)

* =  Oktober 2013

Defisit transaksi berjalan masih berlangsung pada kuartal III-2013. Hal ini dapat ditunjukkan oleh kinerja neraca transaksi berjalan yang tidak jauh berbeda dari kuartal sebelumnya, meskipun terjadi sedikit perbaikan pada kuartal III-2013. Defisit transaksi berjalan menurun dari USD 9,9 miliar pada kuartal II-2013 menjadi USD 8,4 miliar pada kuartal III-2013. Menurunnya defisit transaksi berjalan disebabkan oleh menurunnya defisit neraca perdagangan barang, neraca perdagangan jasa, dan neraca pendapatan.

Defisit neraca perdagangan barang mengalami penurunan pada kuartal III-2013. Defisit neraca perdagangan barang menurun dari USD 0,7 miliar pada kuartal II-2013 menjadi USD 7 juta pada kuartal III-2013. Begitupun defisit neraca perdagangan jasa yang menurun dari USD 3,1 miliar menjadi USD 2,6 miliar. Penurunan defisit neraca perdagangan barang terutama didukung oleh kenaikan surplus neraca perdagangan yang disebabkan oleh melambatnya impor nonmigas. Sedangkan penurunan defisit pada neraca perdagangan jasa disebabkan oleh berkurangnya pembayaran jasa freight yang sejalan dengan penurunan impor nonmigas. Selama ini diketahui bahwa dalam melakukan ekspor-impor, Indonesia menggunakan kapal berbendera asing. Perbaikan defisit neraca jasa juga sejalan dengan penurunan defisit neraca pendapatan. Neraca pendapatan kuartal III-2013 tercatat defisit USD 6,7 miliar lebih rendah dari defisit neraca pendapatan kuartal sebelumnya yaitu USD 7,1 miliar. Penurunan defisit neraca pendapatan didukung oleh penurunan pembayaran bunga dan deviden atas kepemilikan surat berharga oleh asing. Secara umum, meskipun terjadi perbaikan pada neraca transaksi berjalan, namun situasi ketidakpastiaan masih membayangi transaksi berjalan Indonesia. Ketidakpastiaan perekonomian global memperlambat kinerja neraca perdagangan Indonesia yang memiliki korelasi dengan komponen neraca transaksi berjalan yang lain. Hal ini menyebabkan  tingginya defisit neraca transaksi berjalan belum dapat dihindari.

Dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun sebelumnya, kinerja transaksi berjalan Indonesia pada kurtal III-2013 memburuk. Pada kuartal III-2012 transaksi berjalan Indonesia defisit USD 5,3 miliar, lebih rendah dari defisit transaksi berjalan pada kuartal III-2013.

Gambar 19: Transaksi Modal dan Finansial, 2009 – 2013*
Penurunan nilai investasi portfolio dan investasi lainnya berkontribusi terhadap penurunan kinerja transaksi modal dan finansial.

Sumber: Bank Indonesia dan CEIC (2013)

* =  Oktober 2013

Transaksi modal dan finansial juga tercatat memburuk pada kuartal-III 2013. Terjadi penurunan surplus transaksi modal dan finansial yang semula USD 8,4 miliar pada kuartal II-2013 menjadi USD 4,9 miliar pada kuartal III-2013. Penurunan kinerja transaksi modal dan finansial ini disebakan oleh penurunan surplus investasi portofolio dan menurunnya kinerja investasi lainnya yang semula surplus menjadi defisit, meskipun pada periode yang sama investasi langsung mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Investasi langsung yang masih tinggi ini didukung oleh tingginya optimisme pebisnis yang ditunjukkan oleh peningkatan indeks tendensi bisnis yaitu 106,12 pada kuartal III-2013, setelah pada kuartal sebelumnya sebesar 103,88. 

Investasi portfolio menurun dari USD 3,4 miliar pada kuartal II-2013 menjadi USD 1,9 miliar pada kuartal III-2013. Penurunan investasi portfolio ini disebabkan ketidakpastiaan perekonomian global antara lain Government Shutdown, Debt Ceiling, maupun kebijakan Tapering Off yang akan dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat. Kebijakan ini membuat para investor mulai menarik dananya dari Indonesia dan menunggu hingga situasi menjadi lebih stabil. Secara internal, tingginya inflasi akibat kenaikan tarif listrik dan BBM membuat investor enggan masuk ke Indonesia. Masalah infrastruktur dan ketidakstabilan upah buruh membuat investasi berjalan lambat. Selain itu kondisi transaksi berjalan Indonesia yang memburuk juga menjadi faktor yang menyebabkan para investor ragu menanamkan modalnya di Indonesia.
Kinerja yang memburuk juga dialami investasi lainnya. Terjadi penurunan kinerja investasi lainnya yang menurun dari surplus USD 1,2 miliar pada kuartal II-2013 menjadi defisit USD 2,1 miliar pada kuartal III-2013. Penurunan kinerja ini disebabkan meningkatnya simpanan swasta di perbankan luar negeri yang semula surplus USD 4,6 miliar pada kuartal II-2013 menjadi defisit USD 2,1 miliar pada kuartal III-2013. 

Dibandingkan dengan kinerja transaksi modal dan finansial pada kuartal III-2012, kinerja transaksi modal dan finansial pada kuartal III-2013 mengalami penurunan. Transaksi modal dan finansial pada kuartal III-2013 adalah sebesar surplus USD 5,9 miliar sedangkan nilai neraca transaksi modal dan finansial pada kuartal III-2012 sebesar surplus USD 4,9 miliar.  

 

Gambar 20: Neraca Pembayaran Indonesia, 2009 – 2013*
Defisit neraca pembayaran masih berlangsung.

Sumber: Bank Indonesia dan CEIC (2013)

* =  Oktober 2013

Secara umum tidak terjadi perubahan yang signifikan atas kinerja neraca pembayaran Indonesia. Meskipun begitu, kinerja neraca pembayaran Indonesia pada kuartal III-2013 mengalami sedikit penurunan. Defisit neraca pembayaran meningkat dari USD 2,4 miliar pada kuartal II-2013 menjadi USD 2,6 miliar pada kuartal III-2013.

Menurunnya kinerja neraca pembayaran disebabkan oleh penurunan surplus transaksi modal dan finansial sebesar 41,5% (q-to-q). Penurunan surplus transaksi modal dan finansial ini masih jauh lebih besar daripada penurunan defisit transaksi berjalan yang menurun sebesar 15,11% (q-to-q). Meskipun terjadi perbaikan pada transaksi berjalan tetapi besarnya penurunan surplus transaksi modal dan finansial menyebabkan neraca pembayaran kuartal III-2013 masih defisit dan relatif sama dengan kuartal sebelumnya. Defisit transaksi berjalan yang masih cukup besar disebabkan oleh  masih lebarnya defisit neraca pendapatan, neraca perdagangan jasa, dan neraca perdagangan barang meskipun pada kuartal ini defisit neraca perdagangan barang tercatat paling kecil dibandingkan defisit neraca perdagangan jasa maupun neraca pendapatan. Sedangkan pada transaksi modal dan finansial, menurunnya surplus transaksi modal dan finansial disebabkan menurunnya kinerja investasi portofolio dan investasi lainnya pada kuartal III-2013 sebagai dampak dari ketidakpastian ekonomi global.

Dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun sebelumnya, kinerja neraca pembayaran pada kuartal III-2013 dinilai lebih buruk daripada kuartal III-2012. Neraca pembayaran tercatat surplus USD 0,8 miliar pada kuartal III-2012. Nilai ini menurun drastis dan berubah menjadi defisit USD 2,6 miliar pada kuartal III-2013.


Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.