|
A A

Perkembangan Moneter 2014:III

Gambar 3: Pergerakan IHSG dan Indeks Imbal Hasil SUN Tenor 10 Tahun, Agustus 2011 – Agustus 2014 (%)
IHSG tumbuh moderat, yield SUN kembali naik

Sumber: IDX, CEIC, dan Bloomberg (2014)

Pada penutupan 29 Agustus 2014, pasar saham Indonesia (IHSG) masih menunjukkan tren positif meski melandai. Meski naik tipis (0,94%) dari bulan sebelumnya, IHSG berada pada level 5.136 pada Agustus 2014. Selain itu, IHSG memulai babak baru dengan benchmark level harga di atas 5.000 poin. Bahkan, pada 21 Juli 2014 IHSG ditutup pada level 5.206, level tertinggi IHSG, bertepatan dengan pengumuman hasil pemilu presiden 2014. Meski begitu, pada akhir Juni 2014 IHSG sempat ditutup melemah -0.31% dibanding bulan sebelumnya. Selain dikarenakan likuiditas ketat, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi dampak strategi “wait and see“ investor yang masih berlanjut. Diharapkan, hal ini akan segera berakhir seiring dengan proses pemilu yang relatif aman dan optimisme pasar menyambut pemerintahan baru. Sementara itu, pada kuartal II-2014 investor asing membukukan pembelian neto sebesar IDR 19,5 triliun, meski angka tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan pembelian neto investor asing kuartal I-2014 yang tercatat IDR 24,62 triliun. Lebih lanjut, indeks syariah menyumbang 60% dari kinerja tingkat kapitalisasi total IHSG yang sebesar IDR 5.200 triliun triliun (y-t-d) pada 27 Agustus 2014.
Di sisi lain, pasar obligasi mencatat terjadi kenaikan imbal hasil obligasi (yield) SUN pada akhir Agustus 2014. Yield SUN naik sebesar 11 bps menjadi 8,28% dibanding bulan sebelumnya. Pada akhir Juli 2014, yield SUN tercatat di level 8,16% sedangkan pada akhir Juni tercatat di level 8,35%. Fluktuasi tersebut terjadi karena investor masih meraba-raba kondisi perekonomian kedepannya terkait pemilu presiden, meski tingkat harga dapat terkendali dengan baik. Sementara itu, pembelian neto investor asing pada SBN tercatat IDR 42,68 triliun pada kuartal II-2014 yang meningkat dari kuartal I-2014 dengan nilai IDR 37,08 triliun.

Gambar 4: Cadangan Devisa Indonesia (miliar USD) dan Perkembangan Nilai Tukar (IDR/USD), Agustus 2011 – Agustus 2014
Cadangan Devisa Tercatat USD 111,2 miliar, rupiah masih di atas level 11.500 per dolar pada Agustus 2014

Sumber: Bank Indonesia dan CEIC (2014)

Kurs rupiah tercatat melemah. Pada akhir Agustus 2014, nilai kurs mencapapai IDR 11.717 per USD, melemah 1,09% dibandingkan bulan Juli 2014 yang sempat menguat 3,16% ke level IDR 11.591 per USD dibanding bulan sebelumnya. Pelemahan tersebut masih terkait dengan berbagai isu baik internal maupun eksternal Indonesia. Dari sisi internal, para pemegang dolar masih menanti perkembangan politik terutama menjelang penentuan koalisi (Juni 2014) dan pengumuman hasil pemilu (Juli 2014). Selain itu, defisit transaksi berjalan akibat defisit neraca perdagangan barang dan defisit neraca perdagangan jasa yang berlanjut serta pola musiman pembayaran utang luar negeri dan dividen di kuartal II juga menjadi sentiment negatif di pasar keuangan. Sedangkan dari sisi eksternal, isu geopolitik di Irak dan Ukraina menyebabkan pasar dunia berspekulasi harga minyak sehingga investor menahan dolar. Meski begitu, hasil pemilu presiden yang sesuai ekspektasi pasar membuat rupiah sempat menguat di akhir Juli 2014.
Untuk dapat mengakhiri pelemahan rupiah, pemerintah sebaiknya dapat tegas mengatur impor agar dapat mengendalikan pembayaran eksternal jangka pendek dan mengatur transaksi dalam valuta asing. Sejauh ini, transaksi berjalan pada kuartal II-2014 masih defisit meski lebih baik dibandingkan kuartal II-2013. Sementara itu, pengaturan transaksi valuta asing di Indonesia mulai diterapkan dengan instruksi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian tentang keharusan penggunaan mata uang rupiah sebagai alat transaksi di pelabuhan dimulai pada September 2014. Hal ini sebagai cara pengendalian kurs serta menegakkan amanat UU No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang.
Cadangan devisa tetap konsisten dengan tren positif. Pada Agustus 2014, cadangan devisa berada di posisi USD 111,2 miliar, meningkat tipis USD 0,68 miliar. Angka tersebut menjadi angka tertinggi sepanjang 1,5 tahun terakhir, meski belum dapat menyamai pencapaian Agustus 2011 dengan rekor USD 124,6 miliar. Sedangkan pada Juli 2014, cadangan devisa menembus angka USD 110,5 miliar meningkat USD 2,8 miliar dari bulan sebelumnya. Kenaikan devisa pada kuartal II-2014 khusus pada Juli 2014, turut didukung positifnya neraca transaksi modal, dan finansial mengiringi penerbitan Eurobond perdana. Penerbitan tersebut terbilang sukses meraih EUR 1 miliar atau USD 1,4 miliar dengan catatan mendapat penawaran (bid) hampir tujuh kali lipat (oversubscription), bertepatan dengan pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral Eropa (ECB) dari 0,25% menjadi titik terendah 0,15% pada Juni 2014. Eurobond perdana tersebut mendapat rating yang cukup baik dengan nilai “BBB-“ (Fitch), “BB+” (S&P) dan “Baa3” (Moody’s).

Gambar 5: Perkembangan Tingkat Suku Bunga Penjaminan LPS dan Deposito,2011 – 2014* (%)
Suku bunga penjaminan tetap, tren kenaikan suku bunga deposito belum berhenti

Catatan:
* = Juli 2014 (deposito berjangka) dan Agustus 2014 (suku bunga penjaminan)
Sumber: Bank Indonesia dan CEIC (2014)

Hingga saat laporan ini ditulis, suku bunga penjaminan LPS belum berubah. Suku bunga penjaminan dipertahankan di level 7,75%. LPS nampaknya belum melihat terjadinya kenaikan suku bunga tabungan yang signifikan secara agregat. Meski begitu, kondisi moneter Indonesia masih mengalami pengetatan yang ditandai semakin tingginya suku bunga deposito.
Pergerakan suku bunga deposito masih terus menanjak. Pada Juni (kuartal II) 2014, suku bunga deposito berjangka satu bulan berada pada level 8,32%, naik 16 bps dari bulan sebelumnya (8,1%) atau naik 33 bps dari kuartal I (7,99%). Sedangkan pada Juli 2014, suku bunga deposito berjangka satu bulan di level 8,41%, naik 9 bps dari bulan sebelumnya. Angka tersebut jauh berada di atas suku bunga penjaminan LPS. Tingginya suku bunga deposito tersebut menyebabkan suku bunga kredit turut meningkat dan likuiditas perbankan mengetat. Rata-rata suku bunga kredit tertimbang dalam beberapa bulan terakhir sebagai berikut: 12,82% (Juli 2014); 12,76% (Juni 2014); dan 12,75% (Mei 2014). Penyaluran kredit pun melambat dengan pertumbuhan 15% (y-o-y) pada Juli 2014 dari sebelumnya 16,65% (y-o-y) pada Juni 2014 dan 17,4% (y-o-y) pada Mei 2014. Jika diperbandingkan antarkuartal, suku bunga kredit pada kuartal II-2014 meningkat 20 bps dari kuartal I-2014 yang sebesar 12,56% sedangkan pertumbuhan kredit melambat dari 19,06% (y-o-y) di kuartal I-2014. Total kredit yang tersalurkan hingga Juli 2014 mencapai IDR 3.516,7 triliun.

Gambar 6: Perkembangan BI Rate, Agustus 2011 – Agustus 2014 (%)
BI rate belum berubah, sektor moneter masih ketat

Sumber: Bank Indonesia dan CEIC (2014)

Belum ada perubahan pada kebijakan moneter Indonesia. Sesuai dengan keputusan Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 11 September 2014 lalu, BI rate masih dipertahankan pada level 7,5%. Kebijakan tersebut diputuskan setelah melalui pertimbangan dari perkembangan inflasi yang terkendali, pemulihan perekonomian global yang ditopang Amerika Serikat, konsumsi domestik yang tetap baik meski diperkirakan melambat, dan kondisi pasar finansial yang terus positif. Di  sisi lain, perekonomian Indonesia masih memiliki resiko antara lain: ketidakpastian dampak ekonomi global yang berkaitan erat dengan keberlajutan tapering off tahun ini disertai kenaikan Fed Fund Rate (FFR) pada 2015 serta pelambatan ekonomi emerging market; penurunan nilai ekspor dikarenakan menurunnya permintaan komoditas sumber daya alam terkait UU Minerba dan pelambatan ekonomi emerging market; dan inflasi domestik yang terdampak dari kemungkinan cuaca buruk akibat perubahan iklim (El Nino) serta rencana kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah (tarif batas atas angkutan udara dan dan upaya pengendalian BBM bersubsidi). Sementara itu, defisit transaksi berjalan di kuartal II bertambah akibat pola musiman pembayaran utang luar negeri dan dividen. Meski begitu, defisit tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Terkait FFR, ekonom peraih Nobel ekonomi, Joseph Stiglitz memperkirakan tidak akan terjadi kenaikan pada 2014, tetapi pada kuartal II-2015. Lebih lanjut, Stiglitz memperingatkan kemungkinan terjadinya tekanan global pada emerging market akibat kebijakan The Fed tersebut. Untuk itu, Stiglitz menyarankan negara berkembang untuk dapat mengelola cadangan devisa dan neraca transaksi modal dan finansial dengan baik agar bisa bertahan. Pemulihan ekonomi Amerika Serikat membuat quantitative easing akan berakhir pada akhir tahun ini dan kenaikan FFR pada tahun depan. Median survey pada anggota Dewan Pengambil Kebijakan Moneter (FOMC) The Fed menghasilkan perkiraan kenaikan FFR antara 1 hingga 1,25%.

Gambar 7: Tingkat Inflasi, Agustus 2011 – Agustus 2014 (y-o-y, %)
Tingkat harga umum dapat diredam, inflasi Agustus menjadi 3,99 % (y-o-y)

Sumber: BPS dan CEIC (2014)

Pergerakan tingkat harga umum melambat selama kuartal II. Inflasi Agustus 2014 tercatat sebesar 3,99% (y-o-y). Jika dilihat dekomposisinya, inflasi inti dapat terkendali dengan besaran 4,49% (y-o-y), inflasi harga bergejolak sebesar 0,48% (y-o-y), dan inflasi harga diatur pemerintah sebesar 6,19% (y-o-y) pada Agustus 2014. Secara month-to-month, inflasi Agustus sebesar 0,47%. Penurunan tingkat harga pada Agustus disebabkan oleh penurunan harga bawang merah, tomat dan bawang putih karena melimpahnya stok. Inflasi Agustus tersebut lebih rendah dari inflasi Juli yang sebesar 4,5% (y-o-y) yang juga lebih rendah dari bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi Juli 2014 dapat ditekan berkat keberhasilan pemerintah melalui instruksi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian untuk memperlancar sistem distribusi barang. Jika dilihat dekomposisinya, inflasi inti sebesar 5,07% (y-o-y), inflasi harga bergejolak sebesar 1,97% (y-o-y), dan inflasi harga diatur pemerintah sebesar 6,18% (y-o-y) pada Juli 2014.

Tabel 6: Tingkat Inflasi Menurut Kelompok Pengeluaran, 2011 – 2014 (2012=100, m-t-m, %)
Cooling down pasca lebaran, inflasi bulanan Agustus 2014 sebesar 0,47% (m-t-m)

Catatan: (1) Bahan Makanan; (2) Makanan Olahan, Minuman, Tembakau; (3) Perumahan, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar; (4) Sandang; (5) Kesehatan; (6) Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga; (7) Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan
Sumber: BPS dan CEIC (2014)

Musim Lebaran usai, harga-harga bahan pangan dan transportasi turun pada Agustus 2014. Ditilik secara bulanan, inflasi tertinggi pada Agustus terjadi pada kelompok pengeluaran Pendidikan, Rekreasi, dan Olah raga sebesar 1,58% (m-t-m). Sementara itu kelompok barang dengan inflasi terendah terjadi di kelompok pengeluaran untuk Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar -0,12% (m-t-m). Sedangkan pada Juli 2014, inflasi tertinggi adalah kelompok pengeluaran Makanan yang sebesar 1,94% (m-t-m). Inflasi bulanan terendah pada Juli 2014 adalah kelompok pengeluaran Kesehatan dengan nilai 0,39% (m-t-m).
Secara umum, kota-kota di Indonesia mengalami inflasi pada kuartal II-2014. Inflasi terjadi di 66 kota dari 82 kota yang disurvei pada Agustus 2014 dan 82 kota pada Juli 2014. Pada Agustus 2014, kota dengan tingkat kenaikan harga tertinggi adalah Kota Tanjung Pandan dengan nilai 1,98% (m-t-m), sedangkan yang terendah adalah Kota Ternate dengan nilai -1,02% (m-t-m). Kemudian pada Juli 2014, kota dengan inflasi tertinggi adalah Kota Bengkulu sebesar 2,92% (m-t-m), sedangkan yang terendah adalah Kota Maumere sebesar 0,03% (m-t-m).

Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,72% y-o-y atau 0,13% m-t-m pada Agustus 2017. (BPS)  *  BI Repo Rate turun 0,25 pp menjadi 4,25 persen (Bank Indonesia)  *  Juli 2017, cadangan devisa Indonesia sebesar USD 128,79 miliar. (Bank Indonesia)  *  Info terbaru