Home » Tak Berkategori » Perkembangan Ekonomi Terkini 2015:II

Perkembangan Ekonomi Terkini 2015:II

1. Perkonomian secara umum mengalami perlambatan
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia melambat pada kuartal I-2015. Pada kuartal-I 2015, PDB Indonesia tumbuh sebesar 4,71 persen (y-o-y). Jika dibandingkan dengan kuartal-IV 2014, dimana ekonomi tumbuh sebesar 5,01 persen, pertubuhan ekonomi kuartal ini melambat. Padahal perekonomian Indonesia sempat tumbuh tipis dari 4,92 persen di kuartal III-2014 menjadi 5,01 persen pada kuartal IV-2014. Jika dibandingkan kuartal yang sama pada tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal ini juga menunjukkan perlambatan, yaitu 5,14 persen vs 4,71 persen. Pertumbuhan ekonomi ini kuartal ini mencatatkan laju pertumbuhan terendah paling tidak sejak kuartal IV-2012. Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi ini secara umum terjadi karena menurunnya konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga dan kinerja ekspor-impor. Pelemahan laju pertumbuhan juga diakibatkan oleh melemahnya kinerja lapangan usaha di sektor primer, industri dan jasa.

 

Gambar 1 Pertumbuhan PDB atas Dasar Harga Konstan 2010 menurut Lapangan Usaha, 2012 – 2015 (y-o-y)
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat pada Kuartal I-2015
g1
Catatan:
Sektor Primer: (1) Pertanian Kehutanan dan Perikanan; (2) Pertambangan dan Penggalian
Sektor Industri: (1) Industri Pengolahan
Sektor Jasa: (1) Pengadaan Listrik dan Gas; (2) Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang; (3) Konstruksi; (4) Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; (5)Transportasi dan Pergudangan; (6) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; (7) Informasi dan Komunikasi; (8) Jasa Keuangan dan Asuransi; (9) Real Estat; (10) Jasa Perusahaan; (11) Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib; (12) Jasa Pendidikan; (13) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial; (14) Jasa Lainnya.
Sumber: BPS dan CEIC (2015)

 

Perlambatan pertumbuhan terjadi di hampir seluruh lapangan usaha, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan PDB pada kuartal I-2015. Pada kuartal ini, laju pertumbuhan sektor primer, yang terdiri atas lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan serta pertambangan dan penggalian, melambat menjadi 1,28 persen (y-o-y) dibandingkan kuartal IV-2014 2,52 persen (y-o-y). Jika dibandingkan dengan kuartal yang sama di tahun sebelumnya (2,15 persen), juga masih menunjukkan perlambatan. Jika dilihat dari komponen penyusun sektor ini, sebenarnya lapangan usaha pertanian pada kuartal ini tumbuh lebih tinggi menjadi 3,8 persen dibanding kuartal sebelumnya 2,77 persen. Namun komponen lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi hingga -2,32 persen pada kuartal ini. Hal ini tidak mengherankan mengingat adanya penerapan Undang-Undang Mineral dan Batubara (UU Minerba) pada Januari 2014, dimana ada pembatasan ekspor mineral mentah yang disertai dengan penurunan permintaan dunia. Pada sektor industri pengolahan, perlambatan pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan juga terus terjadi akibat menurunnya kinerja ekspor. Pada kuartal ini, laju pertumbuhan sektor industri melambat menjadi 3,87 persen. Seiring dengan melambatnya laju pertumbuhan sektor industri, penurunan juga terjadi pada indeks penjualan eceran riil pada kuartal ini (175,6) dibanding kuartal IV-2014 sebasar 178. (lihat gambar 2). Sektor jasa, yang terdiri atas 14 lapangan usaha, juga mencatat pertumbuhan sebesar 4,71 persen pada kuartal I-2015, melambat jika dibanding kuartal IV-2014 5,01 persen ataupun kuartal yang sama di tahun 2014, yaitu 5,14 persen. Pertumbuhan tertinggi pada sektor jasa terjadi pada subsektor Informasi dan Komunikasi sebesar 10,53 persen. Berkaitan dengan melambatnya laju pertumbuhan sektor pertanian, industri dan jasa-jasa lainnya ini, Indeks Tendensi Bisnis (ITB), yaitu indeks yang menggambarkan kondisi bisnis, pada kuartal I-2015 juga menunjukkan penurunan (lihat gambar 3). Artinya pada kuartal ini pelaku bisnis lebih pesimis jika dibandingkan dengan kuartal IV-2014.

 

Gambar 2: Indeks Penjualan Eceran Riil, kuartal I-2013 – kuartal I-2015
Indeks Penjualan Eceran Riil Menurun pada Kuartal I-2015 Indeks
g2
Sumber: Bank Indonesia (2015)

 

Gambar 3: Indeks Tendensi Bisnis, kuartal I-2013 – kuartal I-2015
Tendensi Bisnis Menurun pada Kuartal-I 2015
g3
Sumber: BPS (2015)

 

Gambar 4: Pertumbuhan PDB atas Dasar Harga Konstan 2010 menurut Pengeluaran, 2012 – 2015 (y-o-y)
Pada Kuartal I-2015, Konsumi Pemerintah menurun, Investasi meningkat tipis dan impor dan ekspor terkontraksi
g4
Sumber: BPS dan CEIC

 

Pada kuartal-I 2015, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran, diikuti oleh investasi, konsumsi pemerintah, dan ekspor neto. Jika dibandingkan dengan kuartal IV-2014, pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga secara melambat dari 5,08 persen menjadi 5,01 persen secara year on year. Perlambatan ini sejalan dengan penurunan indeks keyakinan konsumen yang dilaporkan oleh BI, dimana pada kuartal I-2015 menurun menjadi 100,9 dari 107,6 pada kuartal IV-2014 (lihat gambar 5). Jika dibandingkan dengan kuartal IV-2014, penjualan mobil, motor dan semen juga mengalami penurunan pada kuatal ini (lihat Gambar 6). Kontribusi terbesar kedua datang dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), yang tumbuh sebesar 4,4 persen (y-o-y), meningkat tipis dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi pemerintah melambat menjadi 2,2 persen kuartal IV-2014 yang tumbuh sebesar 2,8 persen. Hal ini menunjukkan kemampuan penyerapan fiskal pemerintah menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Sama dengan satu kuartal sebelumnya, laju pertumbuhan ekspor masih terkontraksi sebesar -0,5 persen akibat menurunnya harga komoditas dunia. Pada kuartal ini, impor juga mengalami kontraksi cukup tajam hingga -2,2 persen (y-o-y). Padahal impor di kuartal lalu tumbuh hingga 3,2 persen dan 5 persen pada kuartal-I 2014.

 

Gambar 5: Indeks Keyakinan Konsumen, kuartal I-2013 – kuartal I-2015
Indeks Keyakinan Konsumen Menurun pada Kuartal I-2015
g5
Sumber: Bank Indonesia, BPS, dan CEIC

 

Gambar 6: Pejualan Mobil, Motor, dan Semen, kuartal I-2013 – kuartal I-2015
Penjualan Mobil, Motor dan Semen Menurun pada Kuartal I-2015

Sumber: Astra Internasional, Asosiasi Mobil Indonesia, Asosiasi Semen Indonesia, dan CEIC

 

2. Ketenagakerjaan
Pada pasar tenaga kerja di Februari 2015, tingkat pengangguran terbuka (TPT) menurun tipis, namun jumlah pengangguran meningkat. Ketenagakerjaan Indonesia menunjukkan adanya peningkatan jumlah angkatan kerja sebesar 6,4 juta orang dibanding Agustus 2014. Sebenarnya jumlah penduduk yang bekerja bertambah sebanyak 2,7 juta orang, namun pengangguran meningkat sebanyak 210 ribu orang dibanding Agustus 2014. Ada indikasi bahwa lapangan kerja yang tersedia kurang mampu menyerap jumlah angkatan kerja yang ada, walaupun tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat tipis (0,33 persen poin). Disisi lain, TPT pada Februari 2015 menurun tipis dibanding Agustus 2014, namun meningkat dibanding Februari 2014.

 

Gambar 31: Perkembangan Ketenagakerjaan, 2010-2015
Jumlah Pengangguran Meningkat
g31-2
Sumber: BPS, dan CEIC

 

Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja tertinggi ada pada pengangkutan dan komunikasi serta jasa-jasa. Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja merupakan pertumbuhan rata-rata tingkat output yang dihasilkan oleh setiap unit pekerja pada suatu lapangan usaha dan dapat juga disebut dengan nilai tambah pekerja. Pada tahun 2014, pertumbuhan produktivitas pekerja tertinggi dicapai oleh pekerja di lapangan usaha pengangkutan dan komunikasi sebesar 8,96 persen (y-o-y) dan Jasa-jasa sebesar 6,1 persen (y-o-y). Pertumbuhan produktivitas pekerja di sektor pertanian relatif stabil, yaitu tumbuh sebesar 3,94 persen (y-o-y). Perlambatan pertumbuhan produktivitas yang signifikan terlihat pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian dimana pada tahun 2013 tumbuh sebesar 14,16 persen (y-o-y) namun tahun 2014 terkontraksi hingga hampir -1 persen (y-o-y). Hal yang sama terjadi pada lapangan usaha industri pengolahan, perdagangan, listrik, gas dan air putih serta lapangan usaha konstruksi.

 

Gambar 32: Pertumbuhan Produktivitas Tenaga Kerja per Sektor, 2010 – 2014 (y-o-y)
Pertumbuhan Produktivitas Tenaga Kerja Tertinggi ada pada Lapangan Usaha Pengangkutan dan Komunikasi serta Jasa-jasa
g32-2
Catatan: Pertumbuhan Produktivitas Tenaga Kerja per sektor dihitung dengan membandingkan PDB riil menurut lapangan usaha dengan jumlah pekerja yang bekerja pada lapangan usaha tahun(x) dengan tahun(x-1).
Sumber: BPS dan CEIC, diolah


Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.